PEMBELAJARAN PENGELOLAAN KELAS

NAMA            : IRANI LAILATUL BADRIA
NPM               : 713.7.1.0227
GURU            : MUHAMMAD JUNAIDI S. Pd.


"KESULITAN BELAJAR SISWA DAN PENGADAAN REMIDIAL"


A.      HASIL WAWANCARA

PENANYA
:
Bagaimana ketertarikan siswa mempelajari materi IPA?
NARASUMBER
:
Mengajar kelas VIII (lebih fokus) dan XI SMPI. Ketertarikan siswa mempelajari IPA tergantung pada gurunya yang paling utama, bagaimana caranya?  Guru memberikan motivasi dan pentingnya mempelajari materi yang akan disampaikan sehingga mereka tahu dan paham akan materi yang disampaikan dan dalam kehidupan masyarakat ternyata ada konsep IPA. Dengan hal itulah siswa nantinya tertarik dalam mempelajari IPA. Namun tidak semua siswa tertarik mengikuti pelajaran, ada yang tidur, bergurau. Bagaimana mengatasi siswa tersebut? Berilah treatment contoh, menunjuk siswa yang tidur atau bergurau kemudian menanyakan apa yang disampaikan oleh guru barusan?, jika siswa tersebut tidak tahu diberian hukuman non fisik misalnya mempelajari Bab yang ditentukan guru kemudian menjelaskan.
PENANYA
:
kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami siswa dalam mempelajari IPA?
NARASUMBER
:
Siswa dominan lambat memahami materi IPA yang berhubungan dengan menghitung (Fisika). Atau terdapar beberapa siswa lambat dalam menyerap materi pelajaran.
PENANYA
:
Teknik apa saja yang digunakan agar siswa mudah memahami materi IPA yang bersifat abstrak?
NARASUMBER
:
Saya tidak langsung menjelaskan konsep namun, mempraktekkan contoh gaya: otot atau gaya gesek salah satu siswa maju ke depan senam (merupakan gaya otot), sehingga siswa yang tidur bisa bergerak dan yang siswa yang malas ditunjuk untuk maju misalkan jalan di tempat (gaya gesek antara sepatu dengan lantai). Baru kemdian guru menjelaskan materi yang berkaitan dengan yang dipraktekkan siswa sehinga siswa akan mengetahui perbedaan gaya otot dan gesek. Jika mengenai materi menghitung memberikan soal yang berhubungan dengan kehidupan siswa (membuat sendiri) karna soal di buku tidak sesuai dengan kehidupan siswa.
Misalnya materi atom meneurut siswa atom adalah bak, apa penyususn bak ; plastik penyusunnya apa? (molekul, unsur dan atom) guru memberikan contoh lain kapur tulis, meminta salah satu siswa menggerus.
PENANYA
:
Apa penyebab sulitnya siswa belajar ipa (fisika)?
NARASUMBER
:
Konsep dasar yang kurang, lingkungan siswa yang kurang mendukung untuk belajar baik orang tua bahkan broken home dan teman sebaya sehingga siswa membutuhkn waktu lebih lama untuk memahami. Salah satu siswa kurang semangat untuk belajar
PENANYA
:
Lebih tepatnya pada materi apa siswa yang mengalami kesulitan?
NARASUMBER
:
Fisika, klo biologi mereka lebih paham karna berkaitan dengan tubuh siswa juga
PENANYA
:
Adakah siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep abstrak atau materi IPA ?
NARASUMBER
:
siswa lama memahami konsep perlu diberikan beberapa contoh hingga contoh yang paling sederhana sehingga siswa paham. Jika materi yang abstrak diberikan contok hingga paling sederhana misal atom namun siswa tidak mengetahui bagaimana bentuk dari hidrogen karna di kelas VII hanya mengenal atom saja. Jika siswa sudah mentok tidak paham kakak tidak memaksakan mereka jadi berhenti sejenak nanti dilanjutkan lagi
PENANYA
:
Adakah teknik atau  media yang digunakan untuk mengurangi kesulitan belajar siswa
NARASUMBER
:
Selain memeberikan contoh yang berkaitan dengan kehiudpan sehari-hari mereka, kakak membuat permainan semacam penjalajahan sehingga mereka semangat untuk belajar karena , praktikum  bahannya membawa dari rumah. Dan meminta siswa yang paham untuk menjelaskan atau mengajari yang belum paham.
PENANYA
:
Bagaimana jika ada siswa yang tidak mencapai KKM?
NARASUMBER
:
Memeberikan pengulangan atau tugas, karna ada salah satu siswa ada materi fisiska tidak bisa menghitung sehingga perlu didik lebih ekstra, walapun diberikan kasus yang lebih sederhana dia tidak paham karna banyak problem-problem pada dirinya, namun hal ini terjadi pada beberapa siswa saja. Jika semua siswa tidak mengcapai KKM maka perlu pengulangan materi atau soal yang tidak dipahami atau salah bukan pengulangan soal. Untuk mengetahui siswa tidak mencapai kkm melalui  tes
PENANYA
:
Kapan siswa diadakan pengadaan remedial?
NARASUMBER
:
Setiapa selesai menyampaikan materi IPA diakhiri dengan beberapa pertanyaan yang dikonsep dengan permainan sehingga siswa tidak tegang dan jenuh dan siswa yang tidak mencapai kkm, siswa akan bertanya sendiri kepada guru terkait soal yang sulit tanpa guru menganalisis pada soal mana yang tidak bisa dijawab oleh siswa. Rata-rata siswa tidak bisa pada soal analisis, yah pertama karna faktor sarana yang kurang mendukung sehingga guru membawa sendiri media yang digunakan termasuk LKS, buku kakak merangkung (point) kemudian diberikan ke anak-anak bahkan alat dan bahan juga membawa sendiri kakak.
Dilakukan remidial setelah selesai ujian ada waktu khusus dari sekolah (prota, promes)
PENANYA
:
Pernahkah melakukan bimbingan khusus pada siswa yang mengalami tingkat kesulitan belajar yang lebih parah?
NARASUMBER
:
Tidak pernah, karna waktunya tidak ada dan repot.
PENANYA
:
Adakah siswa kakak yang bermasalah diberikan hukuman namun tetap bandel? Meminta bantuan guru lain tidak?
NARASUMBER
:
Ada, kakak berikan hukuman non fisik hingga mengaji berdiri di depan masjid. Tidak ran, karna siswa tersebut di pukul jika meminta bantual guru lain atau guru BK.
PENANYA
:
Alat apa yang digunakan untuk menggunakan remedial?
NARASUMBER
:
Soal dan pemberian tugas serta pembahasan materi terkait soal yang tidak dapat dijawab dan dianggap sulit oleh siswa, biasanya pada soal analisis mereka kurang.
PENANYA
:
Bagaimana bentuk soal yang diberikan!
NARASUMBER
:
Jika ujian sekolah bentuk soal dan jumlah soal telah ditentukan biasanya pilgan, uraian, jawaban singkat dengan jumlah 35 soal. Soal remedial diberikan setelah penjelasan dan jumlah soal di remedial tidak sama dengan jumlah soal ujian sekolah dan tingkat kesukaran soal sama.
PENANYA
:
Apakah kakak melakukan tes setiap selasai penyampaian materi ?
NARASUMBER
:
Ya. Karena kakak jarang memberian pekerjaaan rumah jika ada tugas yang diberikan berupa membawa bahan yang berkaitan dengan materi selanjutna, jadi soal dibuat bervariasi berupa cerita yang di dalamnya ada jawaban yang nantinya di tes berupa tes lisan, soal yg dikonsep permainan dan tes tulis yang dikonsep penjelajahan, dalam menjawab soal dibentuk secara kelompok dan diakhir semester akan diumumkan tim pemenang yang akan diberi hadiah.  Konsep pemberian soal dibuat permainan karena siswa cepat jenuh dan sepat ngantuk. Untuk menjawab soal bagi kelompok yang salah diberikan sanksi oleh kelompok lain bukan kakak terus yang menentukan. Dan biasanya untuk menjawab soal dan mempresentasikan siswa yang tingkat kognitifnya kurang sehingga anggota kelompok akan mengaji mereka terkait jawaban atu materi yang akan dipresentasikan karena jika tidak point kelompok tidak bagus.

B.       Deskripsi Mengenai Penerapan Strategi yang Diekplor Oleh Guru
Kondisi sarana sekolah yang terbatas baik berupa LKS, buku paket dan LCD,  membuat pengajar berpikir ekstra terkait perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas karena hal tersebut terkadang pengajar membuat dan membawa serta mencari media alternatif dari rumahnya. Pak juned mengajar IPA kelas VIII dan  XI, namun data yang diambil kelas VIII SMPI Lak Laok, Lenteng Barat Sumenep.
Siswa akan termotivasi dan tertarik mempelajari IPA bergantung keterampilan guru dalam mengajar yaitu dengan cara memberikan alasan penting mengapa siswa perlu mempelajari dan manfaatnya bagi masyarakat, ternyata konsep IPA tidak hanya diajarkan secara konsep atau teori namun dapat diaplikasikan dan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Agar siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran IPA  guru tidak langsung mengajarkan materi, diajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan kepada siswa dan menunujuk salah satu siswa maju kedepan untuk melakukan sebuah gerakan atau model materi yang berkaitan. Tidak semua siswa memerhatikan guru, bergurau bahkan ada yagn tidur dalam kelas maka salah satu cara agar siswa tidak menyimpang memberikan treatment, misalnya memanggil siswa tersebut dan menjelaskan ulang apa yang disampaikan guru, jika siswa tersebut tidak mengetahui diberikan hukuman non fisik namun mendidik berupa contoh yang disebutkan mengaji sambil berdiri di depan kelas agar memeberikan efek jera terhadap siswa, hukuman tersebut diberikan apabila siswa tetap melakukan perbuatan tidak baik.
Tidak semua siswa cepat dan tanggap dalam memahami materi yang diajarkan terutama konsep abstrak agar siswa mudah memahami guru memberikan contoh sederhana hingga paling sederhana yang berhubungan dengan kehidupan siswa, praktikum, dan permainan serta menunjuk atau meminta siswa yang paham menjelaskan atau mengajari siswa yang kurang paham. Misalnya tentang atom, prakonsepsi awal siswa atom adalah bak, guru meluruskan apa penyusun atom yaitu plastik, guru menyakan penyusun dari bak tersebut hingga paling sederhana, atom materi terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Apabila siswa mulai jenuh maka guru tidak memaksakan untuk melanjutkan penjelasan materi.
Guru jarang memberikan tugas karna yakin tidak dikerjakan, maka guru merancang kegiatan pembelajaran setiap akhir pembelajaran untuk mengerjakan soal agar siswa tidak tegang dan jenuh maka pemberian dan menjawab soal dikonsep permaian, penjelajahan dan cerita,  hal ini dilakukan bervariasi agar siswa tidak cepat bosan dan ngantuk.  Soal dijawab perkelompok dan diakhir semester akan diumumkan tim pemenang yang akan diberikan hadiah sehingga siswa tetap semangat mengerkan soal. Dalam menjawab soal tim yang salah menjawab makan diberikan sanksi oleh kelompok lain, tidak selalu ditentukan guru dan guru menunjuk siswa yang kurang aktif atau tingkat kognitifnya kurang untuk menjawab atau mempresentasikan sehingga anggota kelompok akan menjelaskan jawaban atau materi yang dipresentasikan pada seluruh anggota kelompoknya. Dengan tes tersebut akan diketahui siswa yang kurang paham dan mengalami kesulitan belajar, maka untuk materi selanjutnya guru menyisihkan waktu untuk mereview materi yang lalu agar siswa tidak lupa, yang dilakukan diawal pembelajaran
Penyebab kesulitan belajar siswa selain sarana dan guru, dipengaruhi faktor lingkungan sekitar kehidupan siswa, baik teman yang malas dan keluarga yang tidak harmonis bahkan broken home, kurang semangat untuk belajar. Materi yang sulit dipahami siswa yaitu fisika atau materi yang berhubungan dengan menghitung dan rumus
Agar siswa tidak cepat jenuh dan aktif dalam kegiatan pembelajaran, guru selalu melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan melakukan berbagai cara yang berbeda sehingga siswa tidak mengalami kesulitan belajar.
Tidak semua siswa tuntas mencapai kkm dalam ujian, maupun mengerkan soal harian. Guru mengadakan remedial kepada siswa yang tidak mencapai kkm, dalam pengadaan remedial bukan pengulangan soal ujia secara keseluruhan namun memberikan penjelasan ulang terkait soal yang tidak dijawab dan dianggap sulit oleh siswa. Pengadaan remidial dilakukan diluar jam pelajaran terdapat waktu khusus yang ditentukan sekolah. Soal remidial berupa soal uraian atau pemberian tugas dengan tingkat kesukaran sama namun jumlah soal berbeda dengan jumlah soal diujian. Biasanya soal yang mengalami kesulitan berupa analisis, dalam mengevaluasi siswa sendiri yang akan bertanya terkait soal yang dianggap tidak tahu.


C.      Kajian teori
Berkaitan dengan belajar, UNESCO telah mengeluarkan kategori jenis belajar yang dikenal dengan empat pilar dalam kegiatan belajar (Suhenah Suporno, 2000). Pertama, learning to know. Kedua, learning to do. Dan ketiga, learning to live together.
 Beberapa faktor-faktor kesulitan belajaran adalah pertama, faktor intern: 1) bersifat fisik: sakit dan cacat, 2) bersifat psikis: inteligensia, bakat, minat dan motivasi. Kedua, faktor ektern 1) faktor keluarga: faktor orang tua, cara mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, bimbingan orang tua, suasana rumah atau keluarga, dan keadaan ekonomi keluarga, 2) faktor sekolah: a) faktor guru: guru yang tidak berkualitas, hubungan guru dan siswa yang kurang baik, guru yang tidak mempunyaikecakapan dalam mendiagnosa kesulitan belajar peserta didik, dan metode mengajar guru, b) faktor alat pembelajaran, c) faktor gedung atau kelas, dan 3) faktor waktu sekolah dan disiplin yang kurang.(Kunandar,2014:324 )
Jenis-jenis kesulitan belajar
1.      Disleksia
Disleksia adalah kombinasi dari kemampuan dan kesulitan, kesulitan mempengaruhi proses belajar dalam aspek bahasa dan berhitung. Ditandai dari kelemahan yang terus-menerus dapat diidentifikasi dalam memori jangka pendek, kecepatan pemrosesan, urutan keterampilan, pendengaran dan persepsi visual, bahasa lisan, dan keterampilan motorik, termasuk masalah membaca, menulis, ejaan, berbicara. Kemampuan berupa kemampuan visuo-spasial yang baik, berpikir kreatif dan pemahaman intuitif.
2.      Dyspraxia (gangguan integrasu sensory)
Siswa dengan dyspraxia dipengaruhi oleh penurunan nilai dan sering canggung. Keterampilan motorik halus (berkaitan dengan keseimbangan dan koordinasi) dan keterampilan motorik halus (yang berkaitan dengan manipulasi objek) sulit untuk belajar dan sulit untuk mempertahankan belajar.
3.      Dyscalculia
Dyscalculia adalah kesulitan belajar yang melibatkan aspek paling dasar dari keterampilan aritmatika. Kesulitannya terletak pada pemahaman, penerimaan, atau produksi informasi kuantitatif dan spasial. Siswa dengan  dyscalculia mungkin mengalami kesulitan dalam memahami konsep angka sederhana, kurangnya pemahaman intuitif sebuah angka dan memiliki masalah belajar dalam penjumlahan dan prosedur. Ini dapat berhubungan dengan konsep-konsep dasar seperti mengatakan waktu, menghitung harga, dan mengukur hal-hal seperti suhu dan kecepatan.

Sementara itu, langkah-langkah mendiagnosa dan memperbaiki kesulitan belajar: 1) menentukan peserta didik yang mempunyai kesulitan belajar, 2) menentukan bentuk khusus kesulitan belajar, 3) menentukan faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar, dan 4) menetapkan prosedur remedial yang sesuai.
(Winkel,2009:368)Beberapa fase dalam belajar konsep konkret atau tekanan yang harus diberikan pada fase tertentu diataranya:
1.      Fase motivasi : siswa sadar akan tujuan yang harus dicapai dan bersedia melibatkan diri.
2.      Fase konsentrasi : siswa khusus memperhatikan unsur-unsur yang relevan, sehingga terbentuk pola perseptual tertentu.
3.      Fase mengeloh : siswa menahan informasi dalam STM dan mengolah informasi untuk diambil maknanya (dibuat berarti).
4.      Fase penyimpanan : siswa menyimpan informasi yang telah diolah dalam LTM(concept attainment); informasi dimasukkan ke dalam ingatan. Hasil belajar sudah diperoleh, sebagian atau keseluruhan.
5.      Fase menggali: siswa menggali informasi yang tersimpan dalam ingatan dan memasukkanya kembali ke dalam STM (working memory). Informasi ini dikaitkan dengan informasi baru atau dikaitkan sesuatu di luar lingkup bidang.
6.      Fase prestasi  : informasi yang tergali digunakan untuk memberikan prestasi yang menampakkan hasil belajar.
7.      Fase umpan balik : siswa mendapat konfirmasi, sejauh prestasinya tepat.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT (team Games Tournament) memungkinkan siswa dapat belajar lebih relaks di samping menumbuhkan tanggung jawa, kerja sama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar.
Terdapat  lima komponen utama dalam TGT
Penyajaian kelas : guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan denganpengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru.
Kelompok (tim) : dibuat kelompok biasana tediri 4-5 siswa heterogen. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersam teman kelomponya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game
Game : terdiri dari beberapa pertnyaan yang dirnacang untuk menguji pengtahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok.
Turnamen : biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan prestasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja.
Team recognize (penghargaan kelompok) : guru akan mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing tim akan medapatkan penghargaan atau hadiah apabila skor rat-rata memenuhi kriteria yang ditentukan.
Caroline berpendapat bahwa penting untuk mempertimbangkan beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada siswa, pertanyaan yang diajukan biasanya sedikit lebih menantang dan mengharapkan siswa mendiskusikannya. Memberikan siswa kesempatan menjawab dan secara verbal mengulang ide mereka dengan teman biasanya menghasilkan mutu jawaban yngjauh lebuh baik. (Bentley, caroline dan davies. 2015:100)
Pembelajaran bermakna
David ausubel (1963) seorang ahli psikologi pendidikan menyatakan  bahwa bahan pelajaran yang dipelajari harus “barmakna” (meaningful). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Dan Suparno(1997) mengatakan, bahwa pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang dalam proses pembelajaran.(Kosasih, 2013:68)
Pembelajaran remidial
Kunandar(2014:331) pembelajaran remidial suatu pembelajaran yang bersifat mengobati, menyembuhkan, dan membuatnya lebih baik bagi peserta didik yang hasil belajarnya masih dibawah standar yang telah ditetapkan oleh guru atau sekolah. Remidial merupakan suatu sistem belajar yang dilakukan berdasarkan diagnosis yang komprehensif (menyeluruh), yang dimaksudkan untuk menemukan kekurangan-kekurangan yang dialamp peserta didik dalam belajar, sehingga dapat mengoptimalisasikan prestasi belajar.
Metode pembelajaran remidial
Kunanadar (2014:334) perbedaan kegiatan remidial dari pembelajaran biasa terletak pada pendekatan yang digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kegiatan remidial direncanakan dan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan induvidu atau kelompok peserta didik. Sedangkan pembelajaran biasa menerapkan pendekatan klasikal, baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaannya.
Langkah-langkah pembelajaran remedial
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan pembelajaran remedial adalah:
a.       Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik.
b.      Analisis hasil diagnosis kesulitan belajar.
c.       Menemukan penyebab kesulita.
d.      Menyusun rencana kegiatan remedial.
e.       Melaksanakan kegiatan remedial (perlakuan).
f.       Menilai kegiatan remedial (memberi tes).
Sedangkan model pembelajaran remedial yang dapat dilakukan adalah:
a.       Model pembelajaran remedial di luar jam sekolah.
b.      Model pembelajaran remedial permisahan.
c.       Model pembelajaran remedial tim.


D.      Perbandingan Penerapan di Lapangan dan Kajian Teori
Kesulitan belajar siswa dalam memahami konsep ipa berdasarkan wawancara dikarenakan sarana yang terbatas, guru, faktor lingkungan baik orang tua maupun teman, keluarga yang tidak harmonis bahkan broken home ; merupakan faktor ekstern dan faktor intern salah satu siswa malas . Menurut kunandar terdapat beberapa faktor-faktor kesulitan belajara adalah pertama, faktor intern: 1) bersifat fisik: sakit dan cacat, 2) bersifat psikis: inteligensia, bakat, minat dan motivasi. Kedua, faktor ektern 1) faktor keluarga: faktor orang tua, cara mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, bimbingan orang tua, suasana rumah atau keluarga, dan keadaan ekonomi keluarga, 2) faktor sekolah: a) faktor guru: guru yang tidak berkualitas, hubungan guru dan siswa yang kurang baik, guru yang tidak mempunyaikecakapan dalam mendiagnosa kesulitan belajar peserta didik, dan metode mengajar guru, b) faktor alat pembelajaran, c) faktor gedung atau kelas, dan 3) faktor waktu sekolah dan disiplin yang kurang.
Kesulitan belajar yang dialami siswa kelas VIII SMPI Lak Laok merupakan jenis belajar Dyscalculia yaitu siswa membutuhkan waktu yang lama dalam menyerap dan memahami, memproduksi informasi dan jenis kesulitan belajar disleksia yaitu kombinasi dari kemampuan dan kesulitan,kesulitan mempengaruhi proses belajar dalam aspek bahasa dan menghitung. Sebelumnya untuk mengetahui kesulitan belajar siswa, guru mendiagnosis secara tepat siswa yang mengalami kesulitan belajar dan menganalisis faktor yang mempengaruhi siswa tersebut kesulitan belajar kemudian guru menetapkan pelaksanaan remedial. Guru merupakan peran penting untuk mengurangi siswa mengalami kesulitan belajar, memiliki keterampilan mengajukan pertanyaan yang tepat kepada siswa akan memberikan kesempatan menjawab dan menjadapat jawabal yang lebih relevan dan baik, dengan pertanyaan guru mengawali pembelajaran.
Setiap kali pelaksanaan pembelajaran guru mereview materi minggu lalu agar siswa berada dalam fase mengolah, menyimpan dan menggali, agar informasi yang tersimpan dalam ingatan dan memasukkanya kembali ke dalam STM (working memory). Guru melakukan teknik bervariasi dalam menyampaikan materi agar siswa tidak jenuh dan bosan. Supaya siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran, guru melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, misalnya siswa maju kedepan untuk mendemostrasikan gerak otot dengan cara berolahraga ditempat dan meminta siswa lain berpendapat.
Berkaitan dengan belajar, UNESCO telah mengeluarkan kategori jenis belajar yang dikenal dengan empat pilar dalam kegiatan belajar (Suhenah Suporno, 2000). Pertama, learning to know. Kedua, learning to do. Dan ketiga, learning to live together. Keempat pilar tersebut yang diberikan oleh guru kepada siswa, supaya siswa tertarik dan memiliki minat belajar.
Merencankan dan melaksanakan pembelajaran dengan kondisi sarana yang terbatas tidak membuat guru menurunnya daya kreatifitas merancang pembelajaran dalam kelas, hal inilah yang dilakukan narasumber di kelasnya, menciptakan pembelajaran bermakan, sehingga konsep-konsep atau fakta-fakta yang dipelajari berada di long time memory. Menurut Ausubel (1963) menyatakan, Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Sedangkan Suparno (1997) mengatakan, bahwa pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang dalam proses pembelajaran.(Kosasih, 2013:68).
Guru menganalisis bahwa siswa cepat jenuh dan bosan, maka aktivitas belajar dengan permainan, penjelajahan  yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT (team Games Tournament) memungkinkan siswa dapat belajar lebih relaks di samping menumbuhkan tanggung jawa, kerja sama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar.(setelah dianalisis oleh penulis). Dalam mengevaluasi pembelajaran dan ketercapaian tujuan pembelajaran guru juga mengkonsep pemberian soal semenarik mungkin dan relaks dengan cara permainan, karena siswa aktif sehingga guru menetapkan setiap minggu diakhhiri dengan permainan.
Contoh pelaksanaan pembelajaran yang penulis guru memberikan contoh permasalah atau fenomina alam yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari siswa, guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Membentuk sebuah kelompok, kemudian menjawab beberapa pertnyaan yang dirnacang untuk menguji pengtahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Pertanyaan dikonsep permainan kemudian salah satu angota kelompok mempresentasikan jawaban biasanya guru menunjuk siswa yang kurang aktif dan tingkat kognitif rendah, karena membuat anggota kelompok yang paham mengajari yang lain. Jika tidak dapat menjawab siswa dan kelompokmya mendapat hukuman dari kelompok lain dan mendapat point sedikit, diakhir semester akan diumumkan pemenang dengan skor rata-rata yang telah ditentukan oleh guru. Dengan hadiah terkadang siswa antusias untuk mengikuti permainan.
Tidak semua siswa dapat menjawab soal harian dan ujian, terdapat beberapa siswa tidak mencapai KKM, sehingga perlu mengadakan remedial menurut Kunandar (2014:331) pembelajaran remidial suatu pembelajaran yang bersifat mengobati, menyembuhkan, dan membuatnya lebih baik bagi peserta didik yang hasil belajarnya masih dibawah standar yang telah ditetapkan oleh guru atau sekolah. Remidial merupakan suatu sistem belajar yang dilakukan berdasarkan diagnosis yang komprehensif (menyeluruh), yang dimaksudkan untuk menemukan kekurangan-kekurangan yang dialamp peserta didik dalam belajar, sehingga dapat mengoptimalisasikan prestasi belajar.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam kegiatan pembelajaran remedial adalah:
g.      Mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik.
h.      Analisis hasil diagnosis kesulitan belajar.
i.        Menemukan penyebab kesulita.
j.        Menyusun rencana kegiatan remedial.
k.      Melaksanakan kegiatan remedial (perlakuan).
l.        Menilai kegiatan remedial (memberi tes).
Sedangkan model pembelajaran remedial yang dapat dilakukan adalah:
d.      Model pembelajaran remedial di luar jam sekolah.
e.       Model pembelajaran remedial permisahan.
f.       Model pembelajaran remedial tim.

Pengadaan remedial bukanlah pengulangan soal namun memberikan pembelajaran atau penjelasan terkait soal yang tidak dijawab atau sulit dan dievaluasi menggunakan tes baik tulis (uraian) maupun lisan dengan tingat kesukaran sama atau bahkan rebih sederhana. Jumlah soal remedial tidak sama dengan jumlah soal ujian sekolah (35 yang terdiri dari soal uraian, pilihan ganda dan jawaban singkat). Berdasarkan modelnya remedial yang dilaksanakan termasuk ke dalam model pembelajaran remedial diluar jam sekolah, pelaksanaanya telah ditentukan oleh pihak sekolah.
Jenis soal yang tidak dapat dijawab atau mendapatkan hasil yang baik berupa soal analisis, hal ini terjadi karena siswa SMP sederajat berada diantara tahap operasional kongkret dan operasional formal, biasanya siswa bernalar secara logis tentang kejadian-kejadian kongkret dan mampu mengklasifikasikan objek kedalam kelompok yang berbeda-beda, namun siswa dapat juga berpikir secara lebih abstrak, idealistik dan logis.(Santrok, 2010:48)

E.       Daftar pustaka
·         Bentley, caroline dan davies. 2015. Kiat Menjadi Guru Yang Mengagumkan. PT. Indeks : jakarta. Hal 100
·         Kunandar. 2014. Penilaian Autentik (penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013). Rajawali press: jakarta..
·         Komalasari, kokom. 2010. Pembelajaran kontekstual ; konsep dan aplikasi. PT. Refika Aditama : Bandung. Hal 67-68
·         Kosasih, nandang dan dede. Model pembelajaran. 2013. PT. Alfabet : bandung. Hal 68
·         Santrok, John W. 2010. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Kencana Prenada Media Group: Jakarta.
·         Winkel S. J. 2009. Psikologi pengajaran. Media Abadi: Yogyakarta. Hal 368



Comments

Post a Comment