Literasi Sains
KATA PENGANTAR
Dalam dunia yang dipenuhi
dengan produk-produk kerja ilmiah (scientific inquiry), literasi sains
(scientific literacy) menjadi suatu keharusan bagi setiap orang. Setiap orang
perlu menggunakan informasi ilmiah untuk melakukan pilihan yang dihadapinya
setiap hari. Setiap orang perlu memiliki kemampuan untuk berhubungan dalam
percakapan dan debat publik secara cerdas berkenaan dengan isu-isu penting yang
melibatkan IPTEK. Setiap orang siap untuk berbagi dalam pemenuhan kegembiraan
dan personal yang berasal dari pemahaman dan belajar tentang dunia alami.
Literasi Sains juga menjadi meningkat kepentingannya di tempat kerja. Semakin
banyak pekerjaan yang menuntut keterampilan-keterampilan tingkat tinggi,
memerlukan orang-orang yang mampu belajar, bernalar, berpikir kreatif, membuat
keputusan, dan memecahkan masalah. Suatu pemahaman IPA dan prosesnya berkontribusi secara istimewa
berkenaan dengan keterampilan-keterampilan tersebut.
Proyek ini merupakan tuga
akhir mata kuliah literasi sains, adapun isi kontek proyek tanpa validasi
kepada ahli sehingga apabila terdapat kesalahan didalamnya mohon saran dan
kritikan. Proyek ini salah satu penilitian sederhana untuk mengetahui dan
meningkatkan literasi sains siswa khususnya sumenep.
Semoga tugas proyek ni
memberikan manfaat. Aamiin.
Irani Lailatul Badria
Sumenep, Ramadhan 1438 H/Juni 2017

DAFTAR ISI
Sampul Depan
i
Kata
Pengantar .......................................................................................................... ii
Daftar Isi .................................................................................................................. iii
Pendahuluan
.............................................................................................................. 1
Identitas
Refleksi Diri Makalah ................................................................................ 2
Refleksi
Diri Makalah I ............................................................................................. 3
Refleksi
Diri Makalah II............................................................................................
4
Refleksi
diri makalah III............................................................................................
5
Refleksi
diri makalah IV............................................................................................
6
Makalah
dan PPT ...................................................................................................... 7
Refleksi
diri makalah V ............................................................................................ 14
Refleksi
diri makalah VI ........................................................................................... 15
Tugas
Proyek .............................................................................................................
Bab 1 ......................................................................................................................... 16
Bab 2 ......................................................................................................................... 17
Bab ............................................................................................................................ 25
Log Book
.................................................................................................................. 28
Daftar
Pustaka ......................................................................................................... 29
Dokumentasi..............................................................................................................
30
Refleksi
Diri Akhir Semester.....................................................................................
31

PENDAHULUAN
Literasi sains didefinisikan PISA sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan
sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan
bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan
alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia.
Literasi Sains sangatlah penting hal ini disebabkan karena Pertama, pemahaman IPA menawarkan pemenuhan
personal dan kegembiraan, keuntungan untuk dibagikan dengan siapa pun. Kedua,
negara-negara dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupannya yang memerlukan informasi
ilmiah dan cara berpikir ilmiah untuk
mengambil keputusan dan kepentingan orang banyak yang perlu di informasikan
seperti, udara, air dan hutan. Negara-negara maju sudah membangun literasi
sains sejak lama, yang pelaksanaannya
terintegrasi dalam pembelajaran. Dalam PISA literasi sains mencangkup dimensi content, process, dan context. Materi atau content sain tidak
terkait langsung dengan kurikulum di negara manapun.
Proses sains dalam PISA
mencangkup gunakan pengetahuan sains, membuat keputusan, dalam dunia konteks
melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga
terhadap kepedulian pribadi. Pengukuran keterampilan proses sains atau literasi
sains dapat dilakukan dengan tes tertulis setelah pembelajaran selesai, dan
menggunakan lembar observasi. Literasi sains dapat juga diungkapkan dengan
bantuan sejumlah pengamat untuk tes kinerja dan tes kerja
IDENTITAS REFLEKSI DIRI
MAKALAH
Presentasi
|
Judul
|
Entri Bulan
|
1
|
Literasi
Sains Anak Indonesia
|
Februari
|
2
|
Literasi
Sains Kurikulum 2013
|
Februari
|
3
|
Literasi
Sains dalam Pembelajaran IPA 1
|
Maret
|
4
|
Literasi
Saind dalam Pembelajaran IPA 2
|
Maret
|
5
|
Analisis
Kemampuan Awal Literasi Sains
|
Maret
|
6
|
Analisis
Buku Ajar Berdasarkan Literasi Sains
|
Maret
|
REFLEKSI DIRI MAKALAH I
“LITERASI SAINS ANAK
INDONESIA”
Literasi sains itu apa? Apa
manfaat bagi pendidikan IPA? Pertanyaan itulah yang melintas pertama kali
semenjak mengambil mata kuliah literasi sains, setelah mengetahui dari
presentasi kelompok pertama, bahwa literasi sains telah terintegrasi dalam
kurikulum 2013, namun dalam presentasi pertama membahas literasi sains secara
umum.
Menggambarkan literasi sains secara umum, sumber refrensi berupa
jurnal penelitian.
Daftar pustaka tidak ada, hanya berupa refrensi yang terkumpul.
Makalah dibaca dengan pembaca alangkah baiknya diberikan alasan
dari hasil penelitian mengapa hasilnya berbeda.
REFLEKSI DIRI MAKALAH II
“LITERASI SAINS KURIKULUM
2013”
Pemaparan materi lebih banyak
mengenai kurikulum 2013, namun literasi sains dijelaskan terigrasi dalam
kurikulum 2013.
Belum ada penjelasan pada materi atau BAB apa saja yang dapat
diterapkan literasi sains. Hanya memaparkan perbadaan kurikulum KTSP dan 2013.
Guru terus belajar untuk menjadi guru yang kompeten dalam
bidangnya, agar dapat menerapkan literasi sains dalam pembelajaran.
REFLEKSI DIRI MAKALAH III
“LITERASI SAINS DALAM
PEMBELAJARAN IPA 1”
Pembelajaran inquri sangat cocok
menamplikasikan literasi sains dalam pembelajaran. Menurut Kuhlthau dan Todd
(2006) dalam Malihah (2011), inkuiri terbimbing memiliki 6 karakteristik,
yaitu:
Alangkah lebih baik jika
diberikan contoh dalam mengintegrasikan literasi sains dalam pembelajaran
dengan model inkuiri.
REFLEKSI DIRI MAKALAH IV
“LITERASI SAINS DALAM
PEMBELAJARAN IPA 1”
Untuk makalah
selanjurnya harus ada yang membedakan isi makalah literasi sains dalam
pembelajaran IPA 1 dan pembelajaran IPA 2.
“ANALISIS KEMAMPUAN
AWAL LITERASI SAINS”
A.
Analisis Kemampuan Literasi Sains
Berdasarkan framework PISA
2012 (dalam Wulandari, 2016) aspek literasi sains terdiri dari aspek konteks,
pengetahuan, kompetensi, dan sikap yang dijelaskan secara rinci sebagai
berikut:
1.
Aspek Konten (Pengetahuan Sains)
Pada aspek pengetahuan sains, siswa perlu menangkap sejumlah konsep
kunci atau esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan
perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan manusia (Rustaman, 2004). Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci
dari sains yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang
dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak
secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang
menjadi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang diperoleh
melalui sumber-sumber informasi lain yang tersedia.
Kriteria
pemilihan konten sains adalah sebaai berikut:
a) Relevan dengan situasi nyata
b) Merupakan penetahuan pentin sehinga penggunaannya berjangka panjang
c) Sesuai untuk tingkat perkembangan anak usia 15 tahun
Berdasarkan kriteria tersebut, maka dipilih penetahuan yan
sesuai untuk memahami alam dan memaknai pengelaman dalam konteks personal,
sosial dan global.
2.
Aspek Kompetensi (Proses)
Aspek Kompetensi Sains Aspek kompetensi sains merujuk pada proses
mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah
(Toharudin, et al. 2011). Prioritas penilaian PISA 2012 dalam literasi sains
tertuju pada beberapa aspek kompetensi sains, yaitu: mengidentifikasi isu
ilmiah, menjelaskan fenomena ilmiah berdasarkan pengetahuan ilmiah, dan
menggunakan bukti ilmiah untuk menarik kesimpulan yang dijelaskan pada tabel 1.
Tabel
1. Aspek Kompetensi Sains PISA 2012
(dalam Wulandari, 2016)
Indikator
|
Keterangan
|
Mengidentifikasi isu ilmiah
|
Mengenal isu-isu yang
mungkin diselidiki secara ilmiah.
|
Mengidentifikasi kata-kata kunci untuk informasi
ilmiah.
|
|
Mengenal ciri-ciri kunci
dari penyelidikan ilmiah.
|
|
Menjelaskan fenomena ilmiah
|
Mengaplikasikan pengetahuan
sains dalam situasi yang diberikan.
|
Mendeskripsikan atau
menafsirkan fenomena dan memprediksi perubahan.
|
|
Mengidentifikasi deskripsi, eksplanasi, dan
prediksi yang sesuai.
|
|
Menggunakan bukti ilmiah
|
Menafsirkan
bukti ilmiah dan menarik kesimpulan.
|
Mengidentifikasi asumsi, bukti, dan alasan dibalik
kesimpulan yang ditarik.
|
|
Memberikan refleksi
berdasarkan implikasi sosial dari kesimpulan ilmiah.
|
3.
Aspek Konteks
Aspek penting dalam asesmen literasi sains PISA adalah keterlibatan
siswa dalam berbagai situasi yang disajikan
dalam bentuk isu ilmiah. Aspek konteks literasi sains melibatkan isu-isu
penting yang berhubungan dengan sains dalam kehidupan sehari-hari. Item asesmen
literasi sains dirancang untuk konteks yang tidak hanya terbatas pada kehidupan
sekolah saja, tetapi juga pada konteks kehidupan siswa secara umum (Rustaman,
2004). PISA berfokus pada situasi terkait dengan diri individu, keluarga,
sosial, kondisi global, dan beberapa topik untuk memahami kemajuan dalam bidang
sains. Dalam OECD (2013) dinyatakan bahwa asesmen literasi sains PISA menilai
kompetensi, pengetahuan, dan sikap yang berhubungan dengan konteks.
4.
Aspek Sikap
Untuk membantu peserta didik mendapatkan pengetahuan teknik dan
sains, tujuan utama dari pendidikan sains adalah untuk membantu peserta didik
mengembangkan minat peserta didik dalam sains dan mendukung penyelidikan
ilmiah. Sikap-sikap akan sains berperan penting dalam keputusan peserta didik
untuk mengembangkan pengetahuan sains lebih lanjut, mngejar karir dalam sains,
dan menggunakan konsep dan metode ilmiah dalam kehidupan mereka. Dengan begitu,
pandangan PISA akan kemampuan sains tidak hanya kecakapan dalam sains, juga
bagaimana sifat mereka akan sains. Kemampuan sains seseorang di dalamnya memuat
sikap-sikap tertentu, seperti kepercayaan, termotivasi, pemahaman diri, dan
nilai-nilai.
B.
Tingkat Literasi Sains
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan
dalam menggunakan bukti-bukti ilmiah dan membuat keputusan terhadap isu-isu sosial-sains
(OECD, 2006) dan ini diprediksi ada kaitannya dengan lemahnya kemampuan
literasi sains siswa. Melalui situasi
yang nyata dan relevan, literasi sains dapat dikembangkan (Dam & Volman,
dalam Shofiyah, 2015). Situasi yang riil akan mendorong siswa untuk menjadi
tertarik belajar Sains karena mereka mengetahui
pentingnya Sains dalam kehidupan sehari-hari.
Bybee (Soobard & Rannikmae, dalam Shofiyah, 2015) mengusulkan
kerangka kerja untuk menentukan tingkat kemampuan literasi sains setiap
individu berdasarkan situasi, umur, pengalaman, dan kemampuan. Kerangka kerja
tersebut terdiri dari empat tingkatan literasi sains yaitu:
a)
Tingkat Nominal
Siswa yang berada pada tingkat nominal adalah mereka yang
menggunakan dan menuliskan istilah ilmiah, namun tidak mampu untuk membenarkan
istilah atau mengalami miskonsepsi, memiliki pemahaman yang minimal, serta
memiliki naive theories.
b)
Fungsional
Pada tingkat fungsional, siswa telah mampu menggunakan
istilah-istilah ilmiah, mendefiniskan istilah dengan benar padaaktifitas atau
situasi tertentu saja (contoh: pada saat tes), pemahaman yang mereka miliki
hanya berasal dari buku teks yang mereka baca.
c)
Konseptul dan Prosedural
Siswa telah memahami prinsip-prinsip dan teori dalam sains, memahami
bagaimana bagian konsep yang satu berhubungan dengan konsep lain sebagai suatu
kesatuan, mengerti proses sains dan memeliki pemahaman tentang inkuri.
d)
Multidimensional
Siswa yang mampu memanfaatkan berbagai konsep dan menunjukkan
kemampuan untuk menghubungkan konsep-konsep tersebut dengan kehidupan
sehari-hari, memahami bahwa sains, sosial dan teknologi itu saling terkait dan
mempengaruhi satu sama lain.
Tes dan pedoman
pengkategorian kemampuan literasi sains siswa diadaptasi dari Soobard & Rannikmae (dalam Odja dan Payu,
2014). Adapun Gambaran umum atau kategori kemampuan literasi sains yang disusun
seperti Tabel 2.
Tabel 2. Kategori Jawaban Siswa Menurut Tingkat Literasi Sains
Tingkat
|
Deskripsi
|
Illiteracy
|
Jawaban tidak
sesuai dengan pertanyaan
|
Nominal
|
Siswa setuju dengan apa yang
dinyatakan orang lain tanpa adanya ide-ide sendiri.
Siswa
menggunakan/memanfaatkan dan menuliskan istilah ilmiah, namun tidak mampu
untuk membenarkan istilah atau mengalami miskonsepsi.
Jawaban mengenal atau
menyebutkan konsep yang terkait dengan sains.
|
Funsional
|
Siswa mampu mengingat informasi dari buku teks misalnya menuliskan
fakta-fakta dasar, tetapi tidak mampu membenarkan pendapat sendiri berdasarkan pada teks atau grafik yang diberikan.
Siswa bahkan mengetahui konsep antar disiplin, tetapi tidak mampu menggambarkan hubungan antara konsep-konsep tersebut.
|
Konseptual/Prosedural
|
Siswa memanfaatkan Konsep
antar disiplin ilmu dan
menunjukkan pemahaman dan saling
keterkaitan.
Siswa memiliki pemahaman
tentang masalah, membenarkan jawaban
dengan benar informasi dari teks, grafik atau tabel.
Siswa mampu
menganalisis alternatif solusi.
Jawaban menunjukkan
kemampuan prosedural dan pemahaman tentang proses inkuiri ilmiah serta desain
teknologi.
|
Multidimensional
|
Siswa memanfaatkan berbagai
konsep dan menunjukkan kemampuan
untuk menghubungkan konsep-konsep
tersebut dengan kehidupan sehari-hari.
Siswa mengerti bagaimana
ilmu pengetahuan, masyarakat dan
teknologi yang saling terkait dan
mempengaruhi satu sama lain.
Siswa juga menunjukkan
pemahaman tentang sifat ilmu pengetahuan melalui jawabannya.
|
Sumber: Odja, 2014 dan
Mahardika, 2016
Menurut
Diana et al, (dalam Shofiyah, 2015), agar kemampuan literasi sains siswa SMA
dapat meningkat dengan baik, maka para pengajar dihimbau untuk mulai
memperkenalkan dan membelajarkan materi dengan menggunakan berbagai strategi
yang beraspek literasi sains, antara lain membelajarkan materi melalui
eksperimen yang merangsang berpikir tingkat tinggi dan bersifat kontekstual.
C.
Indikator Menentukan Literasi Sains Siswa
Untuk mengkategorikan kemampuan siswa dalam
literasi sains maka
digunakan tujuh indikator dalam
menentukan kemampuan
literasi sains. Ketujuh indikator tersebut merujuk
dari indikator kemampuan literasi sains
dari Gormally et
al. (dalam Winata, 2016). Ketujuh pengukuran
indikator literasi sains tersebut yaitu:
1) Mengidentifikasi pendapat
ilmiah yang valid
2) Melakukan penelusuran leteratur yang efektif
3) Memahami elemen-elemen desain penelitian dan bagaiamana dampaknya
terhadap temuan/kesimpulan
4) Membuat grafik secara tepat dari data
5) Memeahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk
statistik dasar;
6) Memahami dan menginterpretasikan statistik dasar;
7) Melakukan inferensi, prediksi, dan penerikan kesimpulan berdasarkan
data kuantitatif.
Indikator kemampuan literasi sains yang dikembangkan
oleh Gormally et al. (dalam Winata, 2016) dipilih karena sangat sederhana,
mudah diimplementasikan dan telah mencerminkan dari kemampuan literasi sains.
Selain itu, ketiga indikator tersebut termuat dalam tiga kompetensi ilmiah yang
diukur dalam literasi sains. Mengidentifikasi isu-isu (masalah) ilmiah ada pada
indikator 1, menjelaskan fenomena ilmiah ada pada indikator 2 sampai 6, dan
menggunakan bukti ilmiah ada pada indikator 7.
No.
|
Kompetensi Ilmiah yang Diukur
dalam Literasi Sains
|
Indikator
|
1
|
Mengidentifikasi isu-isu (masalah)
Ilmiah
|
Ø Mengidentifikasi pendapat ilmiah yang valid
(misalnya pendapat/teori untuk mendukung hipotesis)
|
2
|
Menjelaskan fenomena ilmiah
|
Ø
Melakukan penelusuran literatur yang efektif (misalnya mengevaluasi
validitas sumber dan membedakan diantara tipe sumber-sumber tersebut)
Ø
Memahami elemen-elemen dalam desain penelitian
Ø
Membuat grafik secara tepat dari data
Ø
Memecahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk
statistik dasar (misalnya menghitung rata-rata, probabilitas, persentase,
frekuensi)
Ø
Memahami dan menginterpretasikan statistik dasar (menginterpretasi
kesalahan, memahami kebutuhan untuk analisis statistik)
|
3
|
Menggunakan bukti ilmiah
|
Ø Melakukan inferensi, prediksi, dan penarikan
kesimpulan berdasarkan data kuantitatif
|
D. Hasil
Penelitian Kemampuan Awal Literasi Sains
Kemampuan awal literasi sains
mahasiswa IPA sebagian besar pada level nominal dan fungsional. Level ini yang
biasanya dilatihkan dan dinilai pada ujian-ujian di sekolah (Bybee, 1997). Hal
ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang berada pada level nominal adalah mereka
yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pada ujian tengah atau ujian akhir
semester dengan baik. Dengan kata lain, kebanyakan mahasiswa terbiasa menjawab
ujiannya pada level nominal karena merekaterbiasa diberikan ujian dengan
pertanyaan-pertanyaan yang juga berada pada level nominal.
Menurut Diana et al., (2015),
agar kemampuan literasi sains dapat
meningkat dengan baik, maka
para pengajar dihimbau
untuk mulai memperkenalkan dan
membelajarkan materi dengan menggunakan
berbagai strategi yang beraspek
literasi sains, antara
lain membelajarkan materi melalui
eksperimen yang dapat merangsang
berpikir tingkat tinggi
dan bersifat kontekstual. Menurut
Rizkitaet al., (2016:780), peningkatan
kemampuan literasi sains dapat
dilakukan melalui pembelajaran yang
menekankan pada kemampuan problem
solving yang dapat dilakukan dengan
strategi Problem-Based Learning (PBL).
Sejalan dengan itu, Trowbridge &
Bybee (1996)
merekomendasikan model pembelajaran
siklus belajar dalam melatihkan
kemampuan literasi sains.
Daftar Pustaka
Mahardika, dkk. 2016. Eksplorasi
kemampuan Awal Literasi Biologi Siswa KelasX SMAN 7 Malang. (Online). (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=273489&val=7135&title=IDENTIFIKASI%20KEMAMPUAN%20SISWA%20DALAM%20PEMBELAJARAN%20BIOLOGI%20DITINJAU%20DARI%20ASPEK-ASPEK%20LITERASI%20SAINS
). Diakses 16 Maret 2017.
Odja dan Payu. 2014. Analisis
Kemampuan Awal Literasi Sains Siswa Pada Konsep IPA. (Online). (http://fmipa.unesa.ac.id/kimia/wp-content/uploads/2013/11/40-47-Abdul-Haris-Odja-Universitas-Negeri-Gorontalo.pdf
). Diakses 17 Maret 2017.
Shofiyah, Noly. 2015. Deskripsi
literasi Sains Awal Mahasiswa Pendidikan IPA pada Konsep IPA. Jurnal Pedagoia.
(Online), Vol, 04 No. 02. (http://ojs.umsida.ac.id/index.php/pedagogia/article/view/13/pdf).
Diakses 16 Maret 2017.
Winata, dkk. 2016. Analisis
Kemampuan Awal Literasi Sains Mahasiswa pada Konsep IPA. (Online). (http://journal.unusa.ac.id/index.php/education/article/view/159/136
) Diakses 16 Maret 2017.
Wulandari dan Sholihin. 2016.
Analisis kemampuan Literasi Sains pada Aspek Pengetahuan dan Kompetensi Sains
Siswa SMP pada Meteri Kalor. Jurnal Edusains. (Online), Vol 08 No. 01 (journal.uinjkt.ac.id/index.php/edusains/article/download/1564/pdf).
Diakses 17 Maret 2017.
REFLEKSI DIRI MAKALAH V
“ANALISIS KEMAMPUAN AWAL
LITERASI SAINS”
Bybee (Soobard & Rannikmae, dalam Shofiyah, 2015) mengusulkan
kerangka kerja untuk menentukan tingkat kemampuan literasi sains setiap
individu berdasarkan situasi, umur, pengalaman, dan kemampuan. Kerangka kerja
tersebut terdiri dari empat tingkatan literasi sains yaitu:
1)Tingkat Nominal, 2)Fungsional
3) Konseptul dan Prosedural serta 4) Multidimensional
Tidak ada contoh bentuk soal menganalisis kemampuan awal literasi
sains dan cara penilaiannya.
Dapat menganalisis kemampuan awal literasi sains siswa, sehingga
nantinya memiliki stategi dalam meningkatkan literasi sains siswa
Refrensi yang disertakan terdapat contoh soal, seharusnya
dimasukkan dalam isi makalah.
Guru/calon guru selain mengetahui kemampuan awal literasi sains
siswa, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan baik lingkungan sekitar
siswa, karakteristik siswa dan gaya belajar siswa.
REFLEKSI DIRI MAKALAH VI
“ANALISIS BUKU AJAR
BERDASARKAN LITERASI SAINS”
Terdapat hasil penelitian
analisis buku ajar literasi sains.
Terdapat aspek dan indikator
yang harus ada dalam buku ajar
isi resume cukup point saja
yang sesuai dengan tema yan diangkat.
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Hasil
studi PISA tahun 2012, siswa Indonesia pada kemampuan literasi sains memperoleh
peringkat 64 dari 65 negara yang mengikuti PISA dengan skor literasi sains 382
(OECD, 2013) sehingga Indonesia menempati perikat kedua terbawah dari seluruh
negara peserta PISA.
Penyebab
rendahnya pencapaian literasi sains siswa Indonesia dikarenakan kurangnya pembelajaran
yang melibatkan proses sains, seperti memfomulasikan pertanyaan ilmiah dalam penyelidikan,
menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menjelaskan fenomena alam serta
menarik kesimpulan beradasarkan fakta yang diperoleh dari penyelidikan (Firman,
2007). Bukan hanya itu saja banyak faktor yang diduga menyebabkan rendahnya
literasi sains siswasiswa di Indonesia yang berkaitan dengan proses pendidikan salah
satunya kegiatan pembelajaran kuran bermakna untuk siswa.
Salah
satu cara untuk meningkatkan literasi sains siswa menggunakan metode praktikum
dan permasalahan yang diangkat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa,
berdasarkan hasil wawancara kelima siswa yang dipilih hanya 2 kali dalam
setahun melalukan praktikum dilakukan di laboratorium sekolah. Dengan mengunakan metode praktikum membantu
siswa mengaitkan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari sehingga materi yang diberikan lebih bermakna.
B.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui
kemampuan awal literasi sains 5 siswa yang dipilih
2.
Meningkatkan
kemampuan literasi sains 5 siswa yang dipilih dengan metode praktikum, diskusi
dan mind mapping.
C.
Manfaat
1.
Siswa lebih
mudah memahami dan mengingat materi gerak pada benda yang dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa.
2.
Siswa mengenal
dan pembendaharaan macam-macam soal standar literasi sains.
BAB II
PROFIL SISWA DAN PERLAKUAN
1. SOSIAL
Interaksi
Siswa dengan Siswa : Komunikasi ADA dengan teman-temannya
baik dan berteman dengan seseorang dianggap nyaman karena sedikit pemalu,
selain suka bermain basket jadi dalam kerja tim solid dan dan saling bekerja
sama sehingga membangun rasa hormat, menghargai antar anggota tim.
Interaksi
Siswa dengan Anggota Keluarga: Harmonis, dan baik walaupun, terkadang ada
pertengkaran kecil dengan saudara. Karena tidak ada orang tua, kemamuan
belajarnya timbul berdasarkan motivasi dalam diri yang kuat.
2. SOSIAL
Interaksi
Siswa dengan Siswa : TN berinteraksi dengan teman-teman kelasnya baik, menolong
teman kalau ada yang mengalami kekulitan, sedangkan dalam kegiatan belajar,
mengerjakan tugas secara induvidu lebih baik jika mendapatkan kelompok yang
tidak mau bekerja sama
Interaksi
Siswa dengan Anggota Keluarga: komunikasi dengan anggota keluarga baik, orang
tua membimbing dalam belajar tari.
3. SOSIAL
Interaksi
Siswa dengan Siswa : DAP dalam kerja
kelompok, ikut andil dalam tugas yang diberikan oleh guru sehingga ada rasa
tanggung jawab.
Interaksi
Siswa dengan Anggota Keluarga:
4. SOSIAL
Interaksi
Siswa dengan Siswa: guru lebih sering meberikan tugas secara kelompok, jika ada
kumpul dalam mengerjakan kelompok datang dan membantu dalam menyelesaikan
tugas.
Interaksi
Siswa dengan Anggota Keluarga: ME komunikasi dengan oran tua baik, dan terbuka
kepada orang tua (memceritakan kesulitan yang dialami)
5. SOSIAL
Interaksi
Siswa dengan Siswa : RNP memiliki teman akrab yang saling menolong dan tak lupa
juga berinteraksi dengan teman kelas dengan
baik.
Interaksi
Siswa dengan Anggota Keluarga: karena memiliki 2 saudara terdapat beberapa
pentengkaran antar saudara,
C. PERLAKUAN
1.
Indikator Ketercapaian
Berdasarkan wawancara dengan kelima
siswa yang menjadi obyek dalam perlakuan meningkatkan literasi sains dapat
disimpulkan bahwa siswa kurang memahami konsep dan belum pernah melakukan
percobaan atau praktikum , jadi perlakuan yang cocok yaitu menggunakan
percobaan atau praktikum (aspek konten
dan kompetensi) sehingga diharapkan siswa lebih memahami daripada hanya membaca
materi, dan setelah melakukan percobaan akan diadakan diskusi secara terbuka
sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya berdasarkan pemahamanya sendiri
dan setiap siswa membuat laporan praktikum atau percobaan. Untuk mengetahui aspek konten dapat diukur dengan
mengadakan tes postes dan pretest berupa soal pilihan ganda, sedangkan aspek kompetensi dapat diukur dengan
melihat hasil laporan siswa yang
berisi analisis dari yang dipraktikumkan atau percobaan yang dilakukan.
Indikator ketercapaian literasi sains yang
akan dikembankan yaitu 1. mengidentifikasi
pendapat ilmiah yang valid
dan 2. melakukan penelusuran leteratur yang
efektif, kedua indikator tersebut terintergrasi dalam kegiatan praktikum siswa.
2.
Analisis Situasi yang Relevan dengan
Konsep Litersi SAINS
Kegiatan belajar mengajar di kelas
siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, guru menjelaskan
materi yang akan disampai, hal ini membuat pengalaman belajar siswa kurang
tanpa adanya variasi metode belajar. kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak
mengaitkan kehidupan sehari-hari siswa dalam pembelajaran. Hal ini bertolak
belakang dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah masing-masing siswa yaitu
kurikulum 2013 telah memuat tiga domain (penetahuan, afektif dan psikomotor),
ketiga domain ini diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar yang semula
pembelajaran teacher center berubah studens center, dimana siswa aktif dalam
kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga tidak hanya mengandalkan
pengetahuan (kognitif) saja. Pendekatan
yang digunakan dalam kurikulum 2013 menggunakan pendekatan
ilmiah atau “scientific
approach”. Dimana pendekatan tersebut terdiri dari 5 kegiatan (5M), yaitu mengobservasi,
menanya, mengeksperimenkan/ mengeksplorasi, mengasosiasi, dan
mengkomunikasikan/ membuat jejaring. Dengan menggunakan pendekatan ilmiah dapat
mengembangkan literasi sains bagi siswa. Siswa dituntut mempelajari alam dengan
menggunakan metode ilmiah.
Untuk mengetahui karakteristik
siswa salah satunya dengan data yang diperoleh kelima siswa memiliki gaya
belajar visual dan auditorial, hal ini untuk memudahkan dalam meberikan
perlakuan untuk mengembangkan literasi sains siswa.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Pemaparan Hasil Perlakuan Dikaitkan Dengan Teori
Konsep
literasi yang digunakan PISA (Performance of International Student Assesment)
tidak hanya terkait dengan kemampuan membaca dan menulis namun bagaimana mereka
menerapkan kemampuan dalam memahami prinsip-prinsip, proses-proses mendasar dan
untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun aspek literasi sains dalam
pembelajaran IPA di sekolah sebagai
berikut: 1) Aspek Konten (Pengetahuan
Sains), 2) Aspek Kompetensi (Proses), 3)aspek konteks dan 4) aspek sikap (Wulandari,
2016).
Keempat aspek literasi sains,
hanya dua aspek yang akan ditingkatkan dalam proyek ini yaitu aspek konten diukur
dengan postes & pretes dan aspek kompetensi diukur dengan
melihat hasil laporan siswa yang
berisi analisis dari yang dipraktikumkan atau percobaan yang dilakukan. Indikator ketercapaian literasi sains yang akan
dikembankan yaitu 1. mengidentifikasi
pendapat ilmiah yang valid
dan 2. melakukan penelusuran leteratur yang
efektif, kedua indikator tersebut terintergrasi dalam kegiatan praktikum siswa.
Pertemuan pertama berdasarkan
analisis soal yang diberikan, kelima siswa berada pada level nominal. Soal yang
diberikan yaitu pilihan ganda dengan desain Two Tier Assessment (Chandra dalam
Ridwan, 2013) pilihan jawaban dan alasan. Lee dan Liu (dalam Ridwan, 2013)
menyatakan bahwa instrumen pilihan ganda dengan disertai alasan dapat
mengetahui kemampuan siswa dalam menjawab soal. Pada tahap Develope, instrumen
pilihan ganda dikembangkan. Alur pengembangan instrumen pilihan ganda adalah
(1) menentukan level literasi sains (2) menentukan kompetensi literasi sains
pada setiap level (3) menentukan jumlah soal sesuai level literasi sains (4)
menentukan konsep, kisi dan konteks soal (5) menuliskan soal dan jawaban.
Jawaban siswa memilih opsi jawaban
dengan benar namun alasan yang diberikan kuran tepat bahkan menalami
miskonsepsi, maka level dari kemampuan awal literasi sains siswa berada ditingkatan
nominal.
Pertemuan kedua setelah mengetahui
kemampan awal literasi sains kelima siswa maka peneliti mengunakan praktikum untuk
meningkatkan aspek kopetensi dan aspek pengetahuan. Hasil dari pretes dan
postes dengan dua soal yang sama menyatakan bahwa siswa mengalami peningkatan dari
alasan yang kurang tepat menjadi alasan secara rinci sehingga siswa berada pada
level fungsional hal ini karena jawaban siswa masih berdasarkan buku, soal yang
diberikan berbentuk pilgan dengan beralasan soal pertama mengenai konsep gerak
pada benda hukum Newton 1 yang dikaitkan dengan kehidupan siswa dan soal kedua
berupa perhitungan dengan soal cerita.
Capaian literasi sains siswa aspek
kompetensi berdasarkan rata-rata nilai kinerja saat praktikum sebesar 85%
(baik). Sedangkan ketercapain literasi sains berdasarkan nilai rata-rata
kinerja pada laporan sebesar 65% (cukup). Rincian laporan praktikum siswa yaitu
membuat hipotesis atau dugaan sementara dengan bantuan guru, menjawab
pertanyaan dan kesimpulan. Kesimpulan mendapatkan hasil “kurang” yaitu 55%. Hal
ini menyatakan bahwa siswa belum mampu menyususn kesimpulan dengan benar. Bahwa
siswa hanya dapat menyusun kesimpulan berdasarkan hasil dari praktikum saja dan
tujuan namun tidak didukung data dan teori.
Pertemuan ketiga untuk meningkatkan
literasi sains siswa menggunakan mind
mapping/peta pikiran materi gerak pada benda, berdasarkan wawancara kelima
siswa pernah membuat peta konsep, hal tersebut membuat lebih mudah memaham.
Hasil penelitian hadinugraha menyatakan pembuatan mind mapping pada pembelajaran IPA telah mampu memberikan pengaruh
terhadap capaian literasi sains. Namun tidak semua aspek literasi sains
tercapaian dengan membuat mind mapping. Hand, dkk (dalam hadinuraha, 2015)
menyatakan bahwa tidak ada satu kegiatan menulis yang dapat melibatkan (engagin) semua dimensi literasi sains.
Kegiatan diskusi mengangkat
permasalahan kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan gerak pada benda.
Kemudian menganalisis secara terbuka siswa mengemukaan pendapat dan pertanyaan,
hal ini untuk melatih penalaran berpikir siswa karena dalam perspektif proses
informasi merupakan proses memasukkan informasi ke dalam memori, mempertahankan
dan kemudian mengungkpkanya kembali untuk tujuan tertentu (Desmita, 2011).
Kemampuan literasi sains kelima
siswa berada pada level nominal dan fungsional. Bybee (dalam Shofiyah, 2015)
lever tersebut menunjukkan siswa terbiasa dilatihkan dan dinilai pada
ujian-ujian sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2011. Psikolgi
Perkembangan Peserta Didik: Panduan Bai Oran Tua dan Guru dalam memahami
Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan SMA. Bnadung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hadinuraha, Syam. 2015. Menggambar
Peta Pikiran dalam Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Literasi Sains.
Prosiding. (Online). http://portal.fi.itb.ac.id/snips2015/files/snips_2015_syam_hadinugraha_4f9c2211719c6691d0f774dfc7685221.pdf. Diakses 8 Juni 2017.
Ridwan, dkk. 2013. Pengembangan
instrumen asesmen dengan pendekatan kontektual untuk mengukur level literasi
sains siswa. Seminar. (online).https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/8005/108.pdf?sequence=1.
Diakses 17 Maret 2017.
Shofiyah, Noly. 2015. Deskripsi
literasi Sains Awal Mahasiswa Pendidikan IPA pada Konsep IPA. Jurnal Pedagoia.
(Online), Vol, 04 No. 02. (http://ojs.umsida.ac.id/index.php/pedagogia/article/view/13/pdf).
Diakses 16 Maret 2017.
Wulandari dan Sholihin. 2016.
Analisis kemampuan Literasi Sains pada Aspek Pengetahuan dan Kompetensi Sains
Siswa SMP pada Meteri Kalor. Jurnal Edusains. (Online), Vol 08 No. 01 (journal.uinjkt.ac.id/index.php/edusains/article/download/1564/pdf).
Diakses 17 Maret 2017.
Comments
Post a Comment