Literasi Sains


KATA PENGANTAR

Dalam dunia yang dipenuhi dengan produk-produk kerja ilmiah (scientific inquiry), literasi sains (scientific literacy) menjadi suatu keharusan bagi setiap orang. Setiap orang perlu menggunakan informasi ilmiah untuk melakukan pilihan yang dihadapinya setiap hari. Setiap orang perlu memiliki kemampuan untuk berhubungan dalam percakapan dan debat publik secara cerdas berkenaan dengan isu-isu penting yang melibatkan IPTEK. Setiap orang siap untuk berbagi dalam pemenuhan kegembiraan dan personal yang berasal dari pemahaman dan belajar tentang dunia alami. Literasi Sains juga menjadi meningkat kepentingannya di tempat kerja. Semakin banyak pekerjaan yang menuntut keterampilan-keterampilan tingkat tinggi, memerlukan orang-orang yang mampu belajar, bernalar, berpikir kreatif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. Suatu pemahaman IPA  dan prosesnya berkontribusi secara istimewa berkenaan dengan keterampilan-keterampilan tersebut.
Proyek ini merupakan tuga akhir mata kuliah literasi sains, adapun isi kontek proyek tanpa validasi kepada ahli sehingga apabila terdapat kesalahan didalamnya mohon saran dan kritikan. Proyek ini salah satu penilitian sederhana untuk mengetahui dan meningkatkan literasi sains siswa khususnya sumenep.
Semoga tugas proyek ni memberikan manfaat. Aamiin.

Irani Lailatul Badria
Sumenep, Ramadhan 1438 H/Juni 2017



  

DAFTAR ISI

Sampul Depan                                                                                                             i
Kata Pengantar ..........................................................................................................  ii
Daftar Isi ..................................................................................................................  iii
Pendahuluan ..............................................................................................................  1
Identitas Refleksi Diri Makalah ................................................................................  2
Refleksi Diri Makalah I .............................................................................................  3
Refleksi Diri Makalah II............................................................................................ 4        
Refleksi diri makalah III............................................................................................ 5
Refleksi diri makalah IV............................................................................................ 6
Makalah dan PPT ......................................................................................................  7
Refleksi diri makalah V ............................................................................................  14
Refleksi diri makalah VI ...........................................................................................  15
Tugas Proyek .............................................................................................................  
Bab 1 ......................................................................................................................... 16
Bab 2 .........................................................................................................................  17
Bab ............................................................................................................................  25
Log Book ..................................................................................................................  28
Daftar Pustaka  .........................................................................................................  29
Dokumentasi.............................................................................................................. 30
Refleksi Diri Akhir Semester..................................................................................... 31



PENDAHULUAN


Literasi sains  didefinisikan PISA  sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Literasi Sains sangatlah penting hal ini disebabkan karena  Pertama, pemahaman IPA menawarkan pemenuhan personal dan kegembiraan, keuntungan untuk dibagikan dengan siapa pun. Kedua, negara-negara dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan  dalam kehidupannya yang memerlukan informasi ilmiah dan cara berpikir ilmiah  untuk mengambil keputusan dan kepentingan orang banyak yang perlu di informasikan seperti, udara, air dan hutan. Negara-negara maju sudah membangun literasi sains sejak lama, yang pelaksanaannya  terintegrasi dalam pembelajaran. Dalam PISA literasi sains  mencangkup dimensi content, process, dan context. Materi atau content sain tidak terkait langsung dengan kurikulum di negara manapun.
Proses sains dalam PISA mencangkup gunakan pengetahuan sains, membuat keputusan, dalam dunia konteks melibatkan isu-isu yang penting dalam kehidupan secara umum seperti juga terhadap kepedulian pribadi. Pengukuran keterampilan proses sains atau literasi sains dapat dilakukan dengan tes tertulis setelah pembelajaran selesai, dan menggunakan lembar observasi. Literasi sains dapat juga diungkapkan dengan bantuan sejumlah pengamat untuk tes kinerja dan tes kerja

  

IDENTITAS REFLEKSI DIRI MAKALAH

Presentasi
Judul
Entri Bulan
1
Literasi Sains Anak Indonesia
Februari
2
Literasi Sains Kurikulum 2013
Februari
3
Literasi Sains dalam Pembelajaran IPA 1
Maret
4
Literasi Saind dalam Pembelajaran IPA 2
Maret
5
Analisis Kemampuan Awal Literasi Sains
Maret
6
Analisis Buku Ajar Berdasarkan Literasi Sains
Maret




REFLEKSI DIRI MAKALAH I
“LITERASI SAINS ANAK INDONESIA”

Literasi sains itu apa? Apa manfaat bagi pendidikan IPA? Pertanyaan itulah yang melintas pertama kali semenjak mengambil mata kuliah literasi sains, setelah mengetahui dari presentasi kelompok pertama, bahwa literasi sains telah terintegrasi dalam kurikulum 2013, namun dalam presentasi pertama membahas literasi sains secara umum.
Literasi sains adalah kemampuan seseorang untuk memahami sains, mengkomunikasikan sains, serta menerapkan pengetahuan sains untuk memecahkan masalah sehingga memiliki sikap dan kepekaan yang tinggi terhadap diri dan lingkungannya dalam mengambil keputusan sains berdasarkan pertimbangannya. Literasi sains berasal dari dua kata yaitu literasi artinya “mengerti/mengetahui” sedangkan sains artinya “ilmu pengetahuan alam”.

Menggambarkan literasi sains secara umum, sumber refrensi berupa jurnal penelitian.
Terdapat hasil penelitian literasi sains antara siswa laki-laki dan siswa perempuan

Daftar pustaka tidak ada, hanya berupa refrensi yang terkumpul.
Hasil penelitian keunggulan siswa laki-laki dan perempuan tentang literasi sains belum dijelaskan padahal terdapat perbedaan hasil penelitian yang menyatakan keunggulan siswa laki-laki dan perempuan dalam literasi sains.

Mendapat ilmu pengetahuan literasi sains, bermanfaat untuk kualitas siswa dalam memecahkan permasalahan dengan sains dan dapat mengaplikasikan sains dalam kehidupan sehari-hari


Makalah dibaca dengan pembaca alangkah baiknya diberikan alasan dari hasil penelitian mengapa hasilnya berbeda.

REFLEKSI DIRI MAKALAH II
“LITERASI SAINS KURIKULUM 2013”
Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari KTSP. Dalam kurikulum ini, standar kompetensi lulusan dalam  KTSP  diterjemahkan menjadi  kompetensi  inti. Kompetensi  inti  (KI)  yang  dimaksud  dibagi  menjadi  3 aspek,  yaitu  KI  1  dan  2  merupakan  aspek  sikap,  KI  3 menyangkut  aspek  pengetahuan,  dan  KI  4 menyangkut aspek keterampilan.  Pendekatan  yang  digunakan  dalam kurikulum ini  adalah  pendekatan  ilmiah  atau  “scientific approach”. Pendekatan tersebut terdiri atas 5 kegiatan (5M), yaitu mengobservasi, menanya, mengeksperimenkan/ mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan/ membuat jejaring.


Pemaparan materi lebih banyak mengenai kurikulum 2013, namun literasi sains dijelaskan terigrasi dalam kurikulum 2013.
 



Belum ada penjelasan pada materi atau BAB apa saja yang dapat diterapkan literasi sains. Hanya memaparkan perbadaan kurikulum KTSP dan 2013.
Pengulangan  pemaparan materi yaitu penilaian literasi sains yang telah dibahas pada pertemuan awal.

Guru/calon guru dapat mengaplikasikan kurikulum 2013 dalam kegiatan pembelajaran dengan baik untuk meningkatkan literasin sains siswa.


Guru terus belajar untuk menjadi guru yang kompeten dalam bidangnya, agar dapat menerapkan literasi sains dalam pembelajaran.




REFLEKSI DIRI MAKALAH III
“LITERASI SAINS DALAM PEMBELAJARAN IPA 1”
Pembelajaran inquri sangat cocok menamplikasikan literasi sains dalam pembelajaran. Menurut Kuhlthau dan Todd (2006) dalam Malihah (2011), inkuiri terbimbing memiliki 6 karakteristik, yaitu:
1) Siswa belajar dengan aktif dan memikirkan sesuatu berdasarkan pengalaman. 2) Siswa belajar dengan aktif membangun apa yang telah diketahuinya. 3)Siswa mengembangkan daya pikir yang lebih tinggi melalui petunjuk atau bimbingan pada proses belajar. 4) Perkembangan siswa terjadi pada serangkaian tahap. 5) Siswa memiliki cara belajar yang berbeda satu sama lainnya. 6) Siswa belajar melalui interaksi sosial

Inti dari makalah ini yaitu memaparkan model yang cocok dalam meningkatkan literasi sains siswa yang dikuatkan dengan hasil penelitian bahwa model inquari terbimbing lebih baik dalam meningkatkan literasi sains siswa daripada model konvensional)

Tidak terdapat cohtoh dalam menerapkan literasi sains dalam kegiatan pembelajaran, hanya berupa indikator yang harus ada dalam pembelajaran.

Guru dapat menerapakan literasi sains dengan model inkuiri terbimbing dengan didukung penggunaan media pembelajaran.

Alangkah lebih baik jika diberikan contoh dalam mengintegrasikan literasi sains dalam pembelajaran dengan model inkuiri.


REFLEKSI DIRI MAKALAH IV
“LITERASI SAINS DALAM PEMBELAJARAN IPA 1”
Mamlok dan Rannikmae (Holbrook, 2005) berpendapat bahwa pembelajaran akan memperoleh hasil yang baik, jika pembelajaran tersebut bermakna bagi siswa. Dahar (1989) pun berpendapat bahwa bila tidak ada makna yang dapat dibentuk, maka siswa tidak belajar apapun. Pembelajaran yang bermakna membuat siswa dapat menggunakan pengetahuan sains untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan mereka. Berbagai penelitian lain yang mendukung untuk memperoleh model pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa, seperti dalam penelitian Brickman, et al., (2009) yang menerapkan pembelajaran inkuiri lab membuktikan bahwa siswa mengalami peningkatan kemampuan penyelidikan ilmiah dan literasi sains yang lebih baik dibandingkan pembelajaran konvensional.


Terdapat contoh literasi sains dalam kegiatan pembelajaran.


Pengulangan materi pada aspek literasi sains, walaupun dengan refrensi yang berbeda namun maknanya sama.


Literasi sains tidak hanya mencangkup pengetahuan dan keterampilan, namun ada hubungannya dengan penggunaan teknologi


Untuk makalah selanjurnya harus ada yang membedakan isi makalah literasi sains dalam pembelajaran IPA 1 dan pembelajaran IPA 2.







“ANALISIS KEMAMPUAN AWAL LITERASI SAINS”

A.    Analisis Kemampuan Literasi Sains
Berdasarkan framework PISA 2012 (dalam Wulandari, 2016) aspek literasi sains terdiri dari aspek konteks, pengetahuan, kompetensi, dan sikap yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut:
1.      Aspek Konten (Pengetahuan Sains)
Pada aspek pengetahuan sains, siswa perlu menangkap sejumlah konsep kunci atau esensial untuk dapat memahami fenomena alam tertentu dan perubahan-perubahan yang terjadi akibat kegiatan manusia (Rustaman, 2004).  Konten sains merujuk pada konsep-konsep kunci dari sains yang diperlukan untuk memahami fenomena alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Dalam kaitan ini PISA tidak secara khusus membatasi cakupan konten sains hanya pada pengetahuan yang menjadi kurikulum sains sekolah, namun termasuk pula pengetahuan yang diperoleh melalui sumber-sumber informasi lain yang tersedia.
Kriteria pemilihan konten sains adalah sebaai berikut:
a)      Relevan dengan situasi nyata
b)      Merupakan penetahuan pentin sehinga penggunaannya berjangka panjang
c)      Sesuai untuk tingkat perkembangan anak usia 15 tahun
          Berdasarkan kriteria tersebut, maka dipilih penetahuan yan sesuai untuk memahami alam dan memaknai pengelaman dalam konteks personal, sosial dan global.
2.      Aspek Kompetensi (Proses)
Aspek Kompetensi Sains Aspek kompetensi sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah (Toharudin, et al. 2011). Prioritas penilaian PISA 2012 dalam literasi sains tertuju pada beberapa aspek kompetensi sains, yaitu: mengidentifikasi isu ilmiah, menjelaskan fenomena ilmiah berdasarkan pengetahuan ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah untuk menarik kesimpulan yang dijelaskan pada tabel 1.

Tabel 1.  Aspek Kompetensi Sains PISA 2012 (dalam Wulandari, 2016)
Indikator
Keterangan
Mengidentifikasi isu ilmiah
Mengenal isu-isu yang mungkin diselidiki secara ilmiah.

Mengidentifikasi kata-kata kunci untuk informasi ilmiah.

Mengenal ciri-ciri kunci dari  penyelidikan ilmiah.
Menjelaskan fenomena ilmiah
Mengaplikasikan pengetahuan sains dalam situasi yang diberikan.

Mendeskripsikan atau menafsirkan fenomena dan memprediksi perubahan.

Mengidentifikasi deskripsi, eksplanasi, dan prediksi yang sesuai.
Menggunakan bukti ilmiah
Menafsirkan bukti ilmiah dan menarik kesimpulan.

Mengidentifikasi asumsi, bukti, dan alasan dibalik kesimpulan yang ditarik.

Memberikan refleksi berdasarkan implikasi sosial dari kesimpulan ilmiah.

3.      Aspek Konteks
Aspek penting dalam asesmen literasi sains PISA adalah keterlibatan siswa dalam berbagai situasi yang disajikan  dalam bentuk isu ilmiah. Aspek konteks literasi sains melibatkan isu-isu penting yang berhubungan dengan sains dalam kehidupan sehari-hari. Item asesmen literasi sains dirancang untuk konteks yang tidak hanya terbatas pada kehidupan sekolah saja, tetapi juga pada konteks kehidupan siswa secara umum (Rustaman, 2004). PISA berfokus pada situasi terkait dengan diri individu, keluarga, sosial, kondisi global, dan beberapa topik untuk memahami kemajuan dalam bidang sains. Dalam OECD (2013) dinyatakan bahwa asesmen literasi sains PISA menilai kompetensi, pengetahuan, dan sikap yang berhubungan dengan konteks.
4.      Aspek Sikap
Untuk membantu peserta didik mendapatkan pengetahuan teknik dan sains, tujuan utama dari pendidikan sains adalah untuk membantu peserta didik mengembangkan minat peserta didik dalam sains dan mendukung penyelidikan ilmiah. Sikap-sikap akan sains berperan penting dalam keputusan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan sains lebih lanjut, mngejar karir dalam sains, dan menggunakan konsep dan metode ilmiah dalam kehidupan mereka. Dengan begitu, pandangan PISA akan kemampuan sains tidak hanya kecakapan dalam sains, juga bagaimana sifat mereka akan sains. Kemampuan sains seseorang di dalamnya memuat sikap-sikap tertentu, seperti kepercayaan, termotivasi, pemahaman diri, dan nilai-nilai.

B.     Tingkat Literasi Sains
Penelitian terdahulu  menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan bukti-bukti ilmiah dan membuat keputusan terhadap isu-isu sosial-sains (OECD, 2006) dan ini diprediksi ada kaitannya dengan lemahnya kemampuan literasi sains siswa. Melalui  situasi yang nyata dan relevan, literasi sains dapat dikembangkan (Dam & Volman, dalam Shofiyah, 2015). Situasi yang riil akan mendorong siswa untuk menjadi tertarik belajar Sains karena mereka mengetahui  pentingnya Sains dalam kehidupan sehari-hari.
Bybee (Soobard & Rannikmae, dalam Shofiyah, 2015) mengusulkan kerangka kerja untuk menentukan tingkat kemampuan literasi sains setiap individu berdasarkan situasi, umur, pengalaman, dan kemampuan. Kerangka kerja tersebut terdiri dari empat tingkatan literasi sains yaitu:
a)      Tingkat Nominal
Siswa yang berada pada tingkat nominal adalah mereka yang menggunakan dan menuliskan istilah ilmiah, namun tidak mampu untuk membenarkan istilah atau mengalami miskonsepsi, memiliki pemahaman yang minimal, serta memiliki  naive theories.
b)     Fungsional
Pada tingkat fungsional, siswa telah mampu menggunakan istilah-istilah ilmiah, mendefiniskan istilah dengan benar padaaktifitas atau situasi tertentu saja (contoh: pada saat tes), pemahaman yang mereka miliki hanya berasal dari buku teks yang mereka baca.
c)      Konseptul dan Prosedural
Siswa telah memahami prinsip-prinsip dan teori dalam sains, memahami bagaimana bagian konsep yang satu berhubungan dengan konsep lain sebagai suatu kesatuan, mengerti proses sains dan memeliki pemahaman tentang inkuri.
d)     Multidimensional
Siswa yang mampu memanfaatkan berbagai konsep dan menunjukkan kemampuan untuk menghubungkan konsep-konsep tersebut dengan kehidupan sehari-hari, memahami bahwa sains, sosial dan teknologi itu saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain.

Tes dan pedoman pengkategorian kemampuan literasi sains siswa diadaptasi dari  Soobard & Rannikmae (dalam Odja dan Payu, 2014). Adapun Gambaran umum atau kategori kemampuan literasi sains yang disusun seperti Tabel 2.

Tabel 2. Kategori Jawaban Siswa Menurut Tingkat Literasi Sains
Tingkat
Deskripsi
Illiteracy
Jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan
Nominal
Siswa setuju dengan apa yang dinyatakan orang lain tanpa adanya ide-ide sendiri.
Siswa menggunakan/memanfaatkan dan menuliskan istilah ilmiah, namun tidak mampu untuk membenarkan istilah atau mengalami miskonsepsi.
Jawaban mengenal atau menyebutkan konsep yang terkait dengan sains.
Funsional
Siswa mampu mengingat informasi dari buku teks misalnya menuliskan fakta-fakta dasar, tetapi tidak mampu membenarkan pendapat sendiri  berdasarkan pada  teks atau grafik yang diberikan.
Siswa bahkan mengetahui konsep antar disiplin, tetapi tidak mampu  menggambarkan hubungan antara  konsep-konsep tersebut.
Konseptual/Prosedural
Siswa memanfaatkan  Konsep  antar  disiplin ilmu dan menunjukkan    pemahaman dan saling keterkaitan.
Siswa memiliki pemahaman tentang  masalah, membenarkan jawaban dengan  benar  informasi dari teks, grafik atau  tabel. 
Siswa mampu menganalisis  alternatif solusi.
Jawaban menunjukkan kemampuan prosedural dan pemahaman tentang proses inkuiri ilmiah serta desain teknologi.
Multidimensional
Siswa memanfaatkan berbagai konsep  dan menunjukkan kemampuan untuk  menghubungkan konsep-konsep tersebut dengan kehidupan sehari-hari. 
Siswa mengerti bagaimana ilmu  pengetahuan, masyarakat dan teknologi  yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. 
Siswa juga menunjukkan pemahaman tentang sifat ilmu pengetahuan melalui jawabannya.
Sumber: Odja, 2014 dan Mahardika, 2016
Menurut Diana et al, (dalam Shofiyah, 2015), agar kemampuan literasi sains siswa SMA dapat meningkat dengan baik, maka para pengajar dihimbau untuk mulai memperkenalkan dan membelajarkan materi dengan menggunakan berbagai strategi yang beraspek literasi sains, antara lain membelajarkan materi melalui eksperimen yang merangsang berpikir tingkat tinggi dan bersifat kontekstual.

C.    Indikator Menentukan Literasi Sains Siswa
Untuk  mengkategorikan  kemampuan siswa  dalam  literasi  sains  maka  digunakan tujuh  indikator  dalam  menentukan kemampuan  literasi  sains. Ketujuh  indikator tersebut  merujuk  dari  indikator  kemampuan literasi  sains  dari  Gormally  et  al.    (dalam Winata, 2016). Ketujuh  pengukuran  indikator  literasi  sains tersebut  yaitu:
1)      Mengidentifikasi  pendapat ilmiah yang valid
2)      Melakukan penelusuran leteratur yang efektif
3)      Memahami elemen-elemen desain penelitian dan bagaiamana dampaknya terhadap temuan/kesimpulan
4)      Membuat grafik secara tepat dari data
5)      Memeahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk statistik dasar;
6)      Memahami dan menginterpretasikan statistik dasar;
7)      Melakukan inferensi, prediksi, dan penerikan kesimpulan berdasarkan data kuantitatif.
Indikator kemampuan literasi sains yang dikembangkan oleh Gormally et al. (dalam Winata, 2016) dipilih karena sangat sederhana, mudah diimplementasikan dan telah mencerminkan dari kemampuan literasi sains. Selain itu, ketiga indikator tersebut termuat dalam tiga kompetensi ilmiah yang diukur dalam literasi sains. Mengidentifikasi isu-isu (masalah) ilmiah ada pada indikator 1, menjelaskan fenomena ilmiah ada pada indikator 2 sampai 6, dan menggunakan bukti ilmiah ada pada indikator 7.
No.
Kompetensi Ilmiah yang Diukur
dalam Literasi Sains
Indikator
1
Mengidentifikasi isu-isu (masalah)
Ilmiah
Ø  Mengidentifikasi pendapat ilmiah yang valid (misalnya pendapat/teori untuk mendukung hipotesis)
2
Menjelaskan fenomena ilmiah
Ø  Melakukan penelusuran literatur yang efektif (misalnya mengevaluasi validitas sumber dan membedakan diantara tipe sumber-sumber tersebut)
Ø  Memahami elemen-elemen dalam desain penelitian
Ø  Membuat grafik secara tepat dari data
Ø  Memecahkan masalah menggunakan keterampilan kuantitatif, termasuk statistik dasar (misalnya menghitung rata-rata, probabilitas, persentase, frekuensi)
Ø  Memahami dan menginterpretasikan statistik dasar (menginterpretasi kesalahan, memahami kebutuhan untuk analisis statistik)
3
Menggunakan bukti ilmiah
Ø  Melakukan inferensi, prediksi, dan penarikan kesimpulan berdasarkan data kuantitatif

D.    Hasil Penelitian Kemampuan Awal Literasi Sains
Kemampuan awal literasi sains mahasiswa IPA sebagian besar pada level nominal dan fungsional. Level ini yang biasanya dilatihkan dan dinilai pada ujian-ujian di sekolah (Bybee, 1997). Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang berada pada level nominal adalah mereka yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pada ujian tengah atau ujian akhir semester dengan baik. Dengan kata lain, kebanyakan mahasiswa terbiasa menjawab ujiannya pada level nominal karena merekaterbiasa diberikan ujian dengan pertanyaan-pertanyaan yang juga berada pada level nominal.
Menurut Diana et al., (2015), agar kemampuan literasi  sains  dapat  meningkat  dengan  baik, maka  para  pengajar  dihimbau  untuk  mulai memperkenalkan  dan  membelajarkan  materi dengan  menggunakan  berbagai  strategi  yang beraspek  literasi  sains,  antara  lain membelajarkan  materi  melalui  eksperimen yang dapat merangsang  berpikir  tingkat  tinggi  dan  bersifat  kontekstual.    Menurut  Rizkitaet al.,  (2016:780),  peningkatan  kemampuan literasi  sains  dapat  dilakukan  melalui pembelajaran  yang  menekankan  pada kemampuan  problem  solving yang  dapat dilakukan  dengan  strategi  Problem-Based Learning  (PBL).  Sejalan  dengan  itu, Trowbridge  &  Bybee  (1996) merekomendasikan  model pembelajaran siklus belajar  dalam  melatihkan  kemampuan  literasi sains.


Daftar Pustaka
Mahardika, dkk. 2016. Eksplorasi kemampuan Awal Literasi Biologi Siswa KelasX SMAN 7 Malang. (Online). (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=273489&val=7135&title=IDENTIFIKASI%20KEMAMPUAN%20SISWA%20DALAM%20PEMBELAJARAN%20BIOLOGI%20DITINJAU%20DARI%20ASPEK-ASPEK%20LITERASI%20SAINS ). Diakses 16 Maret 2017.
Odja dan Payu. 2014. Analisis Kemampuan Awal Literasi Sains Siswa Pada Konsep IPA. (Online). (http://fmipa.unesa.ac.id/kimia/wp-content/uploads/2013/11/40-47-Abdul-Haris-Odja-Universitas-Negeri-Gorontalo.pdf ). Diakses 17 Maret 2017.
Shofiyah, Noly. 2015. Deskripsi literasi Sains Awal Mahasiswa Pendidikan IPA pada Konsep IPA. Jurnal Pedagoia. (Online), Vol, 04 No. 02. (http://ojs.umsida.ac.id/index.php/pedagogia/article/view/13/pdf). Diakses 16 Maret 2017.
Winata, dkk. 2016. Analisis Kemampuan Awal Literasi Sains Mahasiswa pada Konsep IPA. (Online). (http://journal.unusa.ac.id/index.php/education/article/view/159/136 ) Diakses 16 Maret 2017.
Wulandari dan Sholihin. 2016. Analisis kemampuan Literasi Sains pada Aspek Pengetahuan dan Kompetensi Sains Siswa SMP pada Meteri Kalor. Jurnal Edusains. (Online), Vol 08 No. 01 (journal.uinjkt.ac.id/index.php/edusains/article/download/1564/pdf). Diakses 17 Maret 2017.















REFLEKSI DIRI MAKALAH V
“ANALISIS KEMAMPUAN AWAL LITERASI SAINS”

Bybee (Soobard & Rannikmae, dalam Shofiyah, 2015) mengusulkan kerangka kerja untuk menentukan tingkat kemampuan literasi sains setiap individu berdasarkan situasi, umur, pengalaman, dan kemampuan. Kerangka kerja tersebut terdiri dari empat tingkatan literasi sains yaitu:
1)Tingkat Nominal, 2)Fungsional 3) Konseptul dan Prosedural serta 4) Multidimensional
 



Materi mudah dipahami, indikator analisis kemampuan awal literasi sain dibuat tabel, sehingga mempermudah pembaca


Tidak ada contoh bentuk soal menganalisis kemampuan awal literasi sains dan cara penilaiannya.
 



Dapat menganalisis kemampuan awal literasi sains siswa, sehingga nantinya memiliki stategi dalam meningkatkan literasi sains siswa
 




Refrensi yang disertakan terdapat contoh soal, seharusnya dimasukkan dalam isi makalah.
Guru/calon guru selain mengetahui kemampuan awal literasi sains siswa, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan baik lingkungan sekitar siswa, karakteristik siswa dan gaya belajar siswa.



REFLEKSI DIRI MAKALAH VI
“ANALISIS BUKU AJAR BERDASARKAN LITERASI SAINS”
Penyebab rendahnya pencapaian literasi sains siswa Indonesia dikarenakan kurangnya pembelajaran yang melibatkan proses sains, seperti memfomulasikan pertanyaan ilmiah dalam penyelidikan, menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menjelaskan fenomena alam serta menarik kesimpulan beradasarkan fakta yang diperoleh dari penyelidikan (Firman, 2007). Faktor lain yang diduga menyebabkan rendahnya literasi sains siswa di Indonesia yang berkaitan dengan proses pendidikan adalah: (a) sistem pendidikan yang diterapkan, (b) pemilihan model, pendekatan, metode, strategi pembelajaran,dan lain-lain, (c) pemilihan sumber belajar, (d) gaya belajar siswa (e) sarana prasaran pembelajaran, dan banyak faktor lainnya. Buku ajar IPA hendaknya memuat aspek litersi sains agar siswa benar-benar melek sains. Buku ajar merupakan komponen pendidikan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Tersedianya buku ajar yang berkualitas akan mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Namun buku-buku ajar yang ada selama ini lebih menekankan kepada dimensi konten daripada dimensi proses dan konteks sebagaimana dituntut oleh Programme for International Student Assessment (PISA).

Terdapat hasil penelitian analisis buku ajar literasi sains.
Terdapat aspek dan indikator yang harus ada dalam buku ajar
 



Terdapat pengulangan materi baik pengertian literasi sains itu sendiri dan kemampuan rata-rata literasi sains siswa indonesia. Sumber tidak disertakan semua di daftar pustaka

Mengetahui buku ajar standar literasi sains dan menyeleksi buku ajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan literasi sains siswa

isi resume cukup point saja yang sesuai dengan tema yan diangkat.

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Hasil studi PISA tahun 2012, siswa Indonesia pada kemampuan literasi sains memperoleh peringkat 64 dari 65 negara yang mengikuti PISA dengan skor literasi sains 382 (OECD, 2013) sehingga Indonesia menempati perikat kedua terbawah dari seluruh negara peserta PISA.
Penyebab rendahnya pencapaian literasi sains siswa Indonesia dikarenakan kurangnya pembelajaran yang melibatkan proses sains, seperti memfomulasikan pertanyaan ilmiah dalam penyelidikan, menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menjelaskan fenomena alam serta menarik kesimpulan beradasarkan fakta yang diperoleh dari penyelidikan (Firman, 2007). Bukan hanya itu saja banyak faktor yang diduga menyebabkan rendahnya literasi sains siswasiswa di Indonesia yang berkaitan dengan proses pendidikan salah satunya kegiatan pembelajaran kuran bermakna untuk siswa.
Salah satu cara untuk meningkatkan literasi sains siswa menggunakan metode praktikum dan permasalahan yang diangkat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa, berdasarkan hasil wawancara kelima siswa yang dipilih hanya 2 kali dalam setahun melalukan praktikum dilakukan di laboratorium sekolah.  Dengan mengunakan metode praktikum membantu siswa mengaitkan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga materi yang diberikan lebih bermakna.
B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui kemampuan awal literasi sains 5 siswa yang dipilih
2.      Meningkatkan kemampuan literasi sains 5 siswa yang dipilih dengan metode praktikum, diskusi dan mind mapping.

C.    Manfaat
1.      Siswa lebih mudah memahami dan mengingat materi gerak pada benda yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
2.      Siswa mengenal dan pembendaharaan macam-macam soal standar literasi sains.

BAB II
PROFIL SISWA DAN PERLAKUAN


1.      SOSIAL
Interaksi Siswa dengan Siswa : Komunikasi ADA dengan teman-temannya baik dan berteman dengan seseorang dianggap nyaman karena sedikit pemalu, selain suka bermain basket jadi dalam kerja tim solid dan dan saling bekerja sama sehingga membangun rasa hormat, menghargai antar anggota tim.
Interaksi Siswa dengan Anggota Keluarga: Harmonis, dan baik walaupun, terkadang ada pertengkaran kecil dengan saudara. Karena tidak ada orang tua, kemamuan belajarnya timbul berdasarkan motivasi dalam diri yang kuat.
2.      SOSIAL
Interaksi Siswa dengan Siswa : TN berinteraksi dengan teman-teman kelasnya baik, menolong teman kalau ada yang mengalami kekulitan, sedangkan dalam kegiatan belajar, mengerjakan tugas secara induvidu lebih baik jika mendapatkan kelompok yang tidak mau bekerja sama
Interaksi Siswa dengan Anggota Keluarga: komunikasi dengan anggota keluarga baik, orang tua membimbing dalam belajar tari.
3.      SOSIAL
Interaksi Siswa dengan Siswa :  DAP dalam kerja kelompok, ikut andil dalam tugas yang diberikan oleh guru sehingga ada rasa tanggung jawab.
Interaksi Siswa dengan Anggota Keluarga: 
4.      SOSIAL
Interaksi Siswa dengan Siswa: guru lebih sering meberikan tugas secara kelompok, jika ada kumpul dalam mengerjakan kelompok datang dan membantu dalam menyelesaikan tugas.
Interaksi Siswa dengan Anggota Keluarga: ME komunikasi dengan oran tua baik, dan terbuka kepada orang tua (memceritakan kesulitan yang dialami)
5.      SOSIAL
Interaksi Siswa dengan Siswa : RNP memiliki teman akrab yang saling menolong dan tak lupa juga berinteraksi dengan teman kelas dengan  baik.
Interaksi Siswa dengan Anggota Keluarga: karena memiliki 2 saudara terdapat beberapa pentengkaran antar saudara,



C.    PERLAKUAN
1.      Indikator Ketercapaian
Berdasarkan wawancara dengan kelima siswa yang menjadi obyek dalam perlakuan meningkatkan literasi sains dapat disimpulkan bahwa siswa kurang memahami konsep dan belum pernah melakukan percobaan atau praktikum , jadi perlakuan yang cocok yaitu menggunakan percobaan atau praktikum (aspek konten dan kompetensi) sehingga diharapkan siswa lebih memahami daripada hanya membaca materi, dan setelah melakukan percobaan akan diadakan diskusi secara terbuka sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatnya berdasarkan pemahamanya sendiri dan setiap siswa membuat laporan praktikum atau percobaan. Untuk mengetahui aspek konten dapat diukur dengan mengadakan  tes postes dan pretest berupa soal pilihan ganda, sedangkan aspek kompetensi dapat diukur dengan melihat hasil laporan siswa yang berisi analisis dari yang dipraktikumkan atau percobaan yang dilakukan.
 Indikator ketercapaian literasi sains yang akan dikembankan yaitu 1. mengidentifikasi  pendapat ilmiah yang valid  dan 2. melakukan penelusuran leteratur yang efektif, kedua indikator tersebut terintergrasi dalam kegiatan praktikum siswa.
2.      Analisis Situasi yang Relevan dengan Konsep Litersi SAINS
Kegiatan belajar mengajar di kelas siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, guru menjelaskan materi yang akan disampai, hal ini membuat pengalaman belajar siswa kurang tanpa adanya variasi metode belajar. kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak mengaitkan kehidupan sehari-hari siswa dalam pembelajaran. Hal ini bertolak belakang dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah masing-masing siswa yaitu kurikulum 2013 telah memuat tiga domain (penetahuan, afektif dan psikomotor), ketiga domain ini diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar yang semula pembelajaran teacher center berubah studens center, dimana siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga tidak hanya mengandalkan pengetahuan (kognitif) saja. Pendekatan  yang  digunakan  dalam kurikulum 2013 menggunakan  pendekatan  ilmiah  atau  “scientific approach”. Dimana pendekatan tersebut terdiri dari  5 kegiatan (5M), yaitu mengobservasi, menanya, mengeksperimenkan/ mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan/ membuat jejaring. Dengan menggunakan pendekatan ilmiah dapat mengembangkan literasi sains bagi siswa. Siswa dituntut mempelajari alam dengan menggunakan metode ilmiah.
Untuk mengetahui karakteristik siswa salah satunya dengan data yang diperoleh kelima siswa memiliki gaya belajar visual dan auditorial, hal ini untuk memudahkan dalam meberikan perlakuan untuk mengembangkan literasi sains siswa.




BAB III
PEMBAHASAN
A.    Pemaparan Hasil Perlakuan Dikaitkan Dengan Teori
Konsep literasi yang digunakan PISA (Performance of International Student Assesment) tidak hanya terkait dengan kemampuan membaca dan menulis namun bagaimana mereka menerapkan kemampuan dalam memahami prinsip-prinsip, proses-proses mendasar dan untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun aspek literasi sains dalam pembelajaran IPA di sekolah sebagai  berikut: 1) Aspek Konten (Pengetahuan Sains), 2) Aspek Kompetensi (Proses), 3)aspek konteks dan 4) aspek sikap (Wulandari, 2016).
Keempat aspek literasi sains, hanya dua aspek yang akan ditingkatkan dalam proyek ini yaitu aspek konten diukur dengan postes & pretes dan aspek kompetensi diukur dengan melihat hasil laporan siswa yang berisi analisis dari yang dipraktikumkan atau percobaan yang dilakukan. Indikator ketercapaian literasi sains yang akan dikembankan yaitu 1. mengidentifikasi  pendapat ilmiah yang valid  dan 2. melakukan penelusuran leteratur yang efektif, kedua indikator tersebut terintergrasi dalam kegiatan praktikum siswa.
Pertemuan pertama berdasarkan analisis soal yang diberikan, kelima siswa berada pada level nominal. Soal yang diberikan yaitu pilihan ganda dengan desain Two Tier Assessment (Chandra dalam Ridwan, 2013) pilihan jawaban dan alasan. Lee dan Liu (dalam Ridwan, 2013) menyatakan bahwa instrumen pilihan ganda dengan disertai alasan dapat mengetahui kemampuan siswa dalam menjawab soal. Pada tahap Develope, instrumen pilihan ganda dikembangkan. Alur pengembangan instrumen pilihan ganda adalah (1) menentukan level literasi sains (2) menentukan kompetensi literasi sains pada setiap level (3) menentukan jumlah soal sesuai level literasi sains (4) menentukan konsep, kisi dan konteks soal (5) menuliskan soal dan jawaban. 
Jawaban siswa memilih opsi jawaban dengan benar namun alasan yang diberikan kuran tepat bahkan menalami miskonsepsi, maka level dari kemampuan awal literasi sains siswa berada ditingkatan nominal.
Pertemuan kedua setelah mengetahui kemampan awal literasi sains kelima siswa maka peneliti mengunakan praktikum untuk meningkatkan aspek kopetensi dan aspek pengetahuan. Hasil dari pretes dan postes dengan dua soal yang sama menyatakan bahwa siswa mengalami peningkatan dari alasan yang kurang tepat menjadi alasan secara rinci sehingga siswa berada pada level fungsional hal ini karena jawaban siswa masih berdasarkan buku, soal yang diberikan berbentuk pilgan dengan beralasan soal pertama mengenai konsep gerak pada benda hukum Newton 1 yang dikaitkan dengan kehidupan siswa dan soal kedua berupa perhitungan dengan soal cerita.
Capaian literasi sains siswa aspek kompetensi berdasarkan rata-rata nilai kinerja saat praktikum sebesar 85% (baik). Sedangkan ketercapain literasi sains berdasarkan nilai rata-rata kinerja pada laporan sebesar 65% (cukup). Rincian laporan praktikum siswa yaitu membuat hipotesis atau dugaan sementara dengan bantuan guru, menjawab pertanyaan dan kesimpulan. Kesimpulan mendapatkan hasil “kurang” yaitu 55%. Hal ini menyatakan bahwa siswa belum mampu menyususn kesimpulan dengan benar. Bahwa siswa hanya dapat menyusun kesimpulan berdasarkan hasil dari praktikum saja dan tujuan namun tidak didukung data dan teori.
Pertemuan ketiga untuk meningkatkan literasi sains siswa menggunakan mind mapping/peta pikiran materi gerak pada benda, berdasarkan wawancara kelima siswa pernah membuat peta konsep, hal tersebut membuat lebih mudah memaham. Hasil penelitian hadinugraha menyatakan pembuatan mind mapping pada pembelajaran IPA telah mampu memberikan pengaruh terhadap capaian literasi sains. Namun tidak semua aspek literasi sains tercapaian dengan membuat mind mapping. Hand, dkk (dalam hadinuraha, 2015) menyatakan bahwa tidak ada satu kegiatan menulis yang dapat melibatkan (engagin) semua dimensi literasi sains.
Kegiatan diskusi mengangkat permasalahan kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan gerak pada benda. Kemudian menganalisis secara terbuka siswa mengemukaan pendapat dan pertanyaan, hal ini untuk melatih penalaran berpikir siswa karena dalam perspektif proses informasi merupakan proses memasukkan informasi ke dalam memori, mempertahankan dan kemudian mengungkpkanya kembali untuk tujuan tertentu (Desmita, 2011).
Kemampuan literasi sains kelima siswa berada pada level nominal dan fungsional. Bybee (dalam Shofiyah, 2015) lever tersebut menunjukkan siswa terbiasa dilatihkan dan dinilai pada ujian-ujian sekolah.


DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2011. Psikolgi Perkembangan Peserta Didik: Panduan Bai Oran Tua dan Guru dalam memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan SMA. Bnadung: PT. Remaja Rosdakarya.
Hadinuraha, Syam. 2015. Menggambar Peta Pikiran dalam Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Literasi Sains. Prosiding. (Online).  http://portal.fi.itb.ac.id/snips2015/files/snips_2015_syam_hadinugraha_4f9c2211719c6691d0f774dfc7685221.pdf. Diakses 8 Juni 2017.
Ridwan, dkk. 2013. Pengembangan instrumen asesmen dengan pendekatan kontektual untuk mengukur level literasi sains siswa. Seminar. (online).https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/8005/108.pdf?sequence=1. Diakses 17 Maret 2017.
Shofiyah, Noly. 2015. Deskripsi literasi Sains Awal Mahasiswa Pendidikan IPA pada Konsep IPA. Jurnal Pedagoia. (Online), Vol, 04 No. 02. (http://ojs.umsida.ac.id/index.php/pedagogia/article/view/13/pdf). Diakses 16 Maret 2017.

Wulandari dan Sholihin. 2016. Analisis kemampuan Literasi Sains pada Aspek Pengetahuan dan Kompetensi Sains Siswa SMP pada Meteri Kalor. Jurnal Edusains. (Online), Vol 08 No. 01 (journal.uinjkt.ac.id/index.php/edusains/article/download/1564/pdf). Diakses 17 Maret 2017.

Comments

Popular posts from this blog

PEMBELAJARAN PENGELOLAAN KELAS